Minggu, 24 November 2013

Hidup Mahasiswa, Muslim Negarawan, dan Aku Anak Rohis

 
Muslim Negarawan - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

antara  ,  , dan  , semua adalah tentang sinergisme, profesionalisme dan tawazun...
Aku dan hidup tidak harus sesulit itu untuk bentrok dengan pilihan dan prioritas.
Aku dan hidup dapat berjalan beriringan seperti halnya semut berbaris.
Aku dan hidup akan memanfaatkan 24jam setiap harinya menjadi 86400 detik penuh hikmah.
Bukan masalah ketika menemui besarnya aral yang menghadang.
Karena wahai masalah, Allah Maha Besar...
Kenapa lagi membahas akan terlalu lelah jika semuanya dilakukan,
karena Allah tidak memberikan puluhan ribu detik itu untuk disia-siakan...
Demi masa,
ketika satu saja detik itu habis dengan ketidakbergunaan aktivitas,
maka rugilah kamu...
Kawan, dirimu bisa lihat aku kacau dalam keseharianku...
Berlari kesana-kemari dan riweh dengan kerja tidak jelas -yang sama sekali tidak ada dalam mata kuliah kita..
Tapi inilah aku yang mencoba mengisi celah-celah waktu yang belum terisi menjadi terisi dan bermanfaat untuk orang lain...
Maaf karena itu menjadi sebab bagimu untuk sebal terhadapku...
Karena kita jadi jarang bercanda ria, berbagi cerita hari ini, atau sekedar bertatap muka...
Kawan, sungguh ini baik jika kita tidak berlebihan dalam bercanda dan mengobrol tanpa ilmu...
Itulah yang aku pahami dan aku harap kau mengerti...
Jangan marah, akan sedih sekali aku melihat kau marah...
Ini waktu untukmu yang aku berikan dalam konteks akan menjadi waktu yang dimanfaatkan dengan baik...
Hidup mahasiswa, seperti yang mereka agungkan, sedang aku berusaha laksanakan dengan hasil yang layak...
Muslim negarawan, adalah caraku bersosialisasi dengan pelatihan menganalisa strategi...
Sedang 'aku anak rohis, memanglah aktivitas harianku yang tidak mungkin aku tinggalkan...
Sinergisme itu aku coba wujudkan dan terapkan dengan cantik...
Profesionalisme adalah cita-citaku,
dan tawazun telah aku ketahui adalah do'a darimu untukku...

Bogor, 24 Oktober 2013

Yuk Liqo



Liqo - Mentoring
Saat Liqo,
Saat Qodhoyah..
Tanyakan pada mereka bagaimana aku seperti bertopeng menjadi orang yang paling ceria.
Mereka menangis sampai sesenggukan bagai tak kuasa lagi untuk menegakkan kepala.
“Mba, gimana ya caranya biar disiplin...”
“Mba, aku ngerasa berat ngerjain amanah ini...”
“Mba, orangtua protes karna aku ga pernah di rumah...”
***
Menutup mata menghayati rasa penat untuk mendorong otak berpikir lebih keras lagi menemukan jalan keluar, itulah gayaku. Kenapa ya?
Aku menyukai setiap proses mempelajari watak seseorang. Cara berjalan, sepatu yang dipakainya, klub bola kesukaannya, bahasa smsnya, bahkan logat bicaraku mudah berubah menjadi seperti logat mereka. Dan aku menghafal mereka dari postur tubuh mereka. Bukan dari nama, hehe. Ini lebih memudahkan, menurutku. Karena aku mampu mengetahui siapa dia yang sedang berjalan 10 m jauhnya di depanku. Jangan anggap ini aneh dulu. Anda tidak tahu kan, pernah seorang kawan berkata padaku seperti ini, “ Wulan maaf ya aku ga nyadar itu kamu, soalnya hari ini tas kamu beda kayak biasanya. Tas kamu baru ya? “. Dia menghafal seseorang dari tas yang dipakainya.
Ini menyenangkan ketika dalam menghadapi situsi unmood mereka, aku memiliki banyak jalan pintas untuk menyesuaikan diri.
Dan aku paling sulit menghadapi pribadi ku yang hobi dengan aksi walk out.
Hehe. Seperti hari ini. hehe.
Itu solusi paling menyusahkan, sebenarnya.
Menyelesaikan masalah dengan masalah.
Itulah bagaimana aku jujur menyatakan kekecewaan, pergi dari ruangan, mencari pojokan dan menyakiti diri dengan menahan tangis.
Mengatakan kekuranganmu adalah hal yang paling sulit, saudariku..
Aku terlalu mengingat bagaimana indahnya seorang sahabat rosul yang dihadiahi syurga karena kata-kata dan sikapnya tidak pernah menyakiti hati..
Menyenangkan sekali saat-saat menjadi pendengar..
Saat qodhoyah..
Love you ‘coz Allah,
-Wulan-