 |
| Generasi Emas |
Mari bermain istilah. Generasi
merupakan salah satu kunci dalam melihat perkembangan, baik perkembangan sebuah
struktur hidup atau mati. Perkembangan pada istilah “generasi” pun telah mengajak
saya untuk menyinggung istilah lainnya, dikarenakan secara tidak langsung
remaja seperti saya termasuk bagian didalamnya, yaitu generasi muda. Masa-masa
indah, kata sang remaja. Periode yang ingin kembali dirasakan oleh generasi
tua. Atau dapat pula memberi penjelasan tentang masa-masa unjuk gigi dan para
pengunjuk gigi tersebut dalam keinginan yang sangat kuat untuk membina diri,
mempersiapkan masa depan, memproduksi telaga
keringat, melelahkan jari kaki, hingga membuat lebarnya senyuman saat kesuksesan
mereka raih. Memang tak semua generasi muda pada saat ini benar-benar persis
dengan definisi barusan. Tidak jelas ada atau tidaknya generasi muda yang hidup
secara “khusus”, “tidak biasa”, bahkan “aneh” seperti itu. Sebab mayoritas
adalah orang muda sukses sudah banyak namun di antara mayoritas, mereka
minoritas. Saya sekali lagi menyatakan diri sebagai generasi muda, tetapi tidak
sebangga pernyataan pertama saya di awal tulisan ini, karena ruangan kuliah
saya yang rata-rata ber-AC dan padatnya jadwal keberadaan disana membuat saya
tidak berkeringat sebanyak itu. Definisi akhir yang akan saya tuangkan tentang
generasi muda adalah periode ini sungguh merupakan masa berharga untuk
memaksimalkan diri dalam penciptaan kreasi terhormat yang disebut dengan istilah
“prestasi”.
Generasi
seperti halnya dalam istilah pertanian “bibit”. Bibit unggul tidak diperoleh
dari tanaman non-unggul. Diperlukan seleksi untuk mendapatkan bibit paling
bagus dari tanaman non-unggul itu. Atau dapat dilakukan perawatan mendalam pada
tanaman non-unggul hingga menghasilkan bibit unggul. Namun bibit paling bagus
diantara bibit tidak bagus akan kalah kualitas dengan bibit unggul diantara
bibit dari tanaman unggul. Kemudian tetap saja akan memberi istilah yang sama
dengan kalimat pertama paragraf ini dikarenakan perawatan mendalam akan membuat
tanaman non-unggul menjadi unggul, kemudian ia menghasilkan bibit unggul.
Generasi
yang baik seperti halnya pada tanaman berawal dari proses yang tidak sederhana.
Ketika yang melahirkan generasi bukan dari kualitas yang paling baik, sebaiknya
ditunggu saja lahirnya generasi yang juga bukan paling baik. Saya pun meyakini
logika lama itu. Saya menyebutnya logika lama karena Anda pun dapat berceloteh,
“Tradisinya begitu.”. Saya tidak tahu jalan pikiran Anda, namun yang saya
pikirkan adalah menunggu tidak berarti tidak melakukan apapun. Bukan pasif atau
sekedar menopang dagu menanti hal buruk akan terjadi. Sebaliknya, sementara
menunggu, perubahan laku harus dilakukan pada generasi yang masih dan akan ada.
Generasi yang belum terkena perlakuan salah itu harus diselamatkan.
Teori
menjelaskan bahwa tanggung jawab terbesar untuk kelahiran generasi yang baik
adalah yang melahirkan generasi itu sendiri, yaitu orang tua. Orang tua dari
sebuah generasi memiliki peran utama untuk membuat baik generasi yang
dilahirkannya. Memang pada awalnya bibit
unggul tidak terkalahkan. Logika itu mendukung sang bibit unggul menjadi
pemenang dalam setiap hal karena dilahirkan dari tanaman unggul. Namun logika
tidak didukung oleh fakta-fakta kehidupan nyata. Fakta tidak dapat menyalahkan
orang tua dengan serta-merta akan anemia yang diderita sang ibu, sehingga
melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Kemudian fakta juga tidak dapat menuntut
orang tua cacat untuk tidak melahirkan bayi cacat. Tetapi karena orang tua
jelas merupakan penanggung jawab satu-satunya atas sang bayi, maka ada cara
lain untuk “menghakimi” mereka secara cerdas. Saya lebih suka menyebut ini
dengan “membantu mereka untuk bertanggung jawab”. Istilah “menghakimi” terlalu
kasar, namun saya masih akan menggunakannya untuk beberapa kepentingan langka
ini.
Generasi
diharapkan berkembang menjadi generasi yang baik. Cara cerdas “menghakimi”
orang tua adalah mewajibkan mereka mewujudkan harapan itu. Mereka wajib merawat
anak-anak mereka menjadi penerus setiap hal baik yang ada pada mereka, dapat
berupa kepintaran, kebijaksanaan, atau hal yang tidak ternilai harganya yaitu
kesehatan. Istilah baik diawali dari
baiknya kerja tubuh. Tidak pernah ada yang menyangkal pernyataan bahwa
kesehatan tubuh yang optimal dapat membuat produktivitas kerja yang maksimal. Saat
sehat, target tertinggi pun dapat diraih. Kemungkinan yang sama masih ada untuk
kasus pada saat sakit. Hanya saja terdapat perbedaan yaitu keadaan setelah
pencapaian target tersebut. Si sehat dapat tetap menjadi sehat, dapat pula
menjadi kelelahan yang berakibat sakit. Namun faktor resiko terbesar ada pada
si sakit yang dapat menjadi kesulitan ketika menghirup oksigen, harus membayar
untuk bernapas, atau paling berbahaya jika oksigenlah yang tidak terhirup oleh
tubuh karena si sakit tidak lagi bernapas.
Perawatan
mendalam pada bayi seperti yang saya katakan di awal harus dilakukan oleh orang
tua hingga bayi mereka sehat dalam jangka panjang. Jangka panjang berarti tidak
mudah sakit dan hubungannya berkaitan erat dengan waktu pelaksanaan perawatan
mendalam tersebut. Bayi menjadi titik perhatian karena pada saat itulah waktu
yang tepat, untuk memaksimalkan salah satu bibit generasi masa depan ini sehingga
memiliki kesehatan paling baik. Namun bayi merupakan makhluk hidup terlemah
versi saya. Sederhana saja, selama saya melihat mereka hanya dapat menggeliat
dalam lilitan kain bedong, saya menyebut mereka lemah. Tepat sekali. Dulu saya
sempat mengalami fase menjadi bayi, tidak dalam sekejap menjadi perempuan 18
tahun. Karena itulah saya tadi bukan sedang menghina bayi dengan menyebut
mereka lemah. Saya terpanggil untuk merawat mereka.
Kelemahan bayi
adalah mereka terlalu banyak dibebani proses penyempurnaan sel-sel dalam tubuh
mereka, padahal mereka belum dapat membaca, menulis, apalagi menghitung. Mereka
begitu lemah untuk menanggung tanggung jawab sebanyak itu. Mereka belum dapat
memberontak. Mereka belum dilatih cara berteriak orang normal. Tubuh mereka pun
berukuran kecil, padahal ada jutaan proses sedang mereka alami dalam tubuh
mereka. Jutaan proses yang menentukan kesehatan mereka hingga dewasa dan tua. Jutaan
proses yang telah dimulai jauh sejak mereka diizinkan untuk memiliki sel yang
pertama. Bayi yang lahir prematur atau cacat seperti halnya bibit non-unggul
pun telah mengalami proses-proses itu. Mereka sangat lemah. Mereka perlu
didampingi untuk dapat melewati keseluruhan proses dengan sukses. Generasi mudalah
yang menuntun saya dan Anda harus ikut mengambil bagian menjadi bibit unggul,
walaupun terlambat karena kita bukan lagi bayi, bukan berarti kita tidak
berkesempatan untuk membuat perubahan. Saya dan Anda hanya perlu menyehatkan
diri berubah menjadi raga tersehat tingkat tata surya. Saya dan Anda harus mewariskan
sebuah bibit unggul, inilah rencana masa depan kita.
Bibit unggul
dapat menyesuaikan diri dengan segala pola lingkungan hidup, sehingga segala
jalan terbuka untuknya menjadi segala bentuk dan peran. Segala pengaruh yang
memasukinya, memberi kesempatan bagi bibit unggul untuk berubah walaupun itu
adalah perubahan tidak diinginkan. Akan sangat baik jika bayi yang
perkembangannya masih tergantung pada perlakuan orang tua padanya, rencana
matang untuk bayi berkembang telah disiapkan sedini mungkin. Para ahli gizi
memberikan rumusan “1000 Hari Pertama Kehidupan” untuk rentang waktu sensitif
pemberian fokus terhadap perkembangan anak. Ibu hamil harus mulai memikirkan
masa depan anak yang akan dilahirkannya sejak sang ibu menyadari bahwa ia
sedang mengandung. Kepentingan krusial dari hal itu adalah sang ibu akan
menambahkan seorang anggota lagi pada generasi muda Indonesia, generasi yang merupakan
isyarat potensial akan lahirnya generasi emas.
Mari bermain
analisis. Generasi emas terbentuk dari produktivitas dan keaktivan orang-orang
dalam generasi muda. Generasi emas memiliki gambaran tentang periode
pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang cepat pada usia muda (Golden Age). Kecepatan ini dapat
digambarkan dengan beberapa istilah lainnya yang berkaitan erat dengan
fungsi-fungsi tubuhnya. Saya mencoba memisalkan deskripsi kecepatan ini dengan
memfokuskan pada perbandingan beberapa pengamatan.
Kunci awal
lahirnya anak adalah adanya janin dalam kandungan ibu. Kesehatan janin memiliki
posisi yang setara dengan kesehatan ibu. Jika ibu tidak sehat, maka dapat
dipastikan bayi akan ikut menerima pengaruh dari penyakit ibu. Janin yang sehat
berasal dari ibu yang sehat. Janin yang sehat pada saat lahir juga akan menjadi
bayi dengan kesehatan yang baik. Volume lambung bayi baru lahir adalah 10-20
ml. Perlu diketahui bahwa pada umur satu tahun volume lambungnya adalah 200 ml.
Dalam satu tahun, volume lambung bayi berkembang 10 kali lipat. Dosen mata kuliah
Gizi Kelompok Khusus saya mengatakan dalam kuliahnya, ini hanya salah satu dari
sekian banyak bukti pesatnya perkembangan tubuh bayi. Berat badan, panjang
badan, sekresi enzim pencernaan maupun kecukupan energi bayi juga berkembang
secara pesat. Bayi memiliki berat badan dua kali lipat berat lahirnya pada hari
ke 120-160. Usia 12 bulan, beratnya menjadi 3 kali lipat berat lahir serta
panjang badannya menjadi 2 kali lipat panjang lahir. Rate ini tidak menciptakan sebuah rumus bahwa dalam satu tahun
volume lambung manusia akan membesar hingga sepuluh kali lipat. Perkembangan
pesat bayi ini perlu dipersiapkan sebaik mungkin, jauh sebelum bayi dilahirkan.
Kemampuan
pengosongan lambung pada bayi masih lambat tergantung ukuran makanan atau porsi
hidangan dan komposisi makanan. Saat baru dilahirkan, sekresi pepsin dan
tripsin telah dapat diproduksi. Aktivitas enzim rendah namun cukup untuk
mencerna protein susu (ASI). Enzim maltase, isomaltase, dan sukrose cukup
diproduksi pada usia 28-32 minggu. Laktase jumlahnya tinggi saat lahir untuk
mencerna laktosa pada susu. Tidak banyak makanan yang cocok untuk bayi pada
masa perkembangan pesat ini. Saya pernah menjadi seorang pengasuh bayi selama
beberapa bulan. Salah sedikit saja akan mempengaruhi bayi secara langsung, baik
itu pengaruh pada kondisi kesehatan atau perilaku.
Bayi yang saya
asuh adalah adik saya sendiri yang kini berusia 9 tahun. Bagi seorang anak SD,
menjadi pengasuh tidak lain seperti hukuman. Sangat merepotkan dan melelahkan.
Sangat mudah untuk mengetahui gejala mereka saat lapar atau tidak. Masalah yang
besar terjadi ketika belum terbiasa untuk mengerti kemauan mereka, sehingga
mereka dapat kembali tenang. Misal bayi diberikan makanan, belum pasti mereka
akan benar-benar menghabiskan makanan yang disuapkan. Bayi tidak memilih-milih
makanan, mereka belum dapat melakukannya. Tetapi mereka sudah mampu muntah.
Mereka bisa tidak menelan makanan di dalam mulut mereka. Saat sudah tertelan
pun, mereka belum tentu dapat mencernanya melalui organ tubuh mereka yang belum
sempurna. Dampak dari makanan yang masuk
ke tubuh mereka ada dua pilihan: menyehatkan atau membawa penyakit. Dampak ini
juga berlaku untuk orang dewasa namun lebih mudah terjadi pada bayi.
Perkembangan
bayi belum menjangkau tahap kemampuan menganalisa lingkungan sekitar yang dapat
menyebabkan perubahan, baik positif maupun negatif. Hingga tahap itu tercapai, orang
tua yang akan mengerjakan keseluruhan proses menganalisa itu. Saya mulai
menyukai khayalan di bagian ini. Kali ini saya akan mengajak Anda berimajinasi.
Mari bermain imajinasi. Pemilihan makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
perkembangan janin dan bayi merupakan masalah serius untuk dicari solusinya.
Saya menyukai makanan lezat namun sejak saya menjadi mahasiswi gizi saya mengetahui
bahwa saya tidak membutuhkan makanan lezat. Saya membutuhkan makanan yang tubuh
saya perlukan. Tetapi akan sangat membingungkan jika tidak banyak pengetahuan
tentang jenis makanan yang harus dikonsumsi supaya sehat. Sungguh menarik
ketika menginginkan suatu makanan, saya
dapat langsung melihat daftar makanan yang dapat saya pilih untuk dimakan. Ini
berarti sudah ada acuan yang dapat memberi ketertarikan kepada saya untuk tetap
memakan makanan sehat.
Gejala tidak
nafsu makan dan mual yang kebanyakan dialami oleh ibu hamil selama masa-masa
awal kehamilannya, mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi untuk ibu maupun
janin yang dikandungnya. Selama ibu dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang
diperlukan, maka janin akan menjadi sehat hingga saat dilahirkan dan tumbuh
berkembang menjadi anak yang sehat. Saya seringkali tidak terpikirkan akan
jenis makanan yang akan saya konsumsi pada saat makan siang. Namun setelah
menjumpai sebuah warung makan yang menampilkan daftar menu yang disajikan, saya
tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan makanan-makanan yang saya
ingin makan pada saat itu. Kemungkinan
besar ibu hamil tidak memiliki inisiatif apapun untuk mengkonsumsi makanan
karena terlalu fokus dengan rasa mual yang dialaminya. Setelah melahirkan pun,
ibu hanya mengenal beberapa produk bubur bayi instan karena melihatnya pada
iklan di televisi. Bayi hanya mendapat nutrisi kimia yang memiliki kualitas
gizi rendah dan memperberat kerja sistem perncernaan bayi. Ibu tidak menyadari
bahwa dengan memberikan makanan itu kepada bayinya, mereka sebenarnya telah
menganggap enteng masalah kesehatan anak mereka hingga mereka dewasa. Ibu perlu
diberi saran-saran dengan cara yang menarik bagi mereka untuk membuatkan atau
mengkonsumsi makanan terbaik untuk masa depan anaknya. Daftar makanan dengan
menu yang beragam setiap harinya dan kandungan gizi yang tepat dibuat di setiap
rumah sebagai ‘pemancing’ nafsu makan makanan sehat. Ide ini dapat menjadi referensi untuk
mengembangkan perencanaan menu yang baik bagi ibu dan bayi selama masa
pertumbuhan dan perkembangan 1000 hari pertama kehidupan bayi.
Sampai di bagian
akhir yang saya paling sukai diantara semua kesukaan saya di tulisan ini. Mari
beraksi. Itu bukan judul lagu yang dinyanyikan oleh band Kotak. Tetapi saya
mengajak Anda untuk bangkit dari kursi empuk Anda sekarang juga, dan mulai
berusaha meraih kursi empuk Anda lainnya yang permanen Anda yang ada di masa
depan dengan melakukan langkah nyata. Perbaikan gizi tidak mudah dirasakan
perubahannya karena objek yang sangat banyak dan bahkan kemungkinan jumlahnya dapat
lebih dari satu di setiap atap rumah. Dengan rasa tanggung jawab secara
menyeluruh dari setiap orang tua terhadap anaknya, dapat dipastikan bayangan
bertaburannya emas-emas dunia generasi di negara ini akan menjadi nyata.
Generasi muda yang siap menjadi generasi emas pengukir prestasi karena orang
tua cerdas yang memperhatikan mereka. Orang tua cerdas yang terlatih berasal
dari kerja keras bimbingan orang-orang pintar yang memberi arahan kepada mereka
untuk hidup sehat.
Saya yakin telah
muncul beragam ide tentang makanan-makanan sehat yang harus dikonsumsi ibu
hamil dan bayinya. Tetapi ide pengarahan konsumsi makanan yang sehat namun
tidak membosankan, dan dapat diterapkan dengan mudah di kalangan menengah dan
menengah ke bawah, memerlukan penjabaran lebih mendetail dari para ahli gizi
karena status gizi dan tingkat kemampuan ekonomi mereka berbeda. Setiap
posyandu harus ditempatkan beberapa ahli gizi. Mereka dapat menjelaskan dan
membuatkan ibu perencanaan menu yang sesuai bagi ibu dalam rentang waktu
tertentu kemudian ibu dapat kembali lagi untuk meminta perencanaan menu yang
baru ketika rentang waktu tersebut telah habis. Generasi emas menjadi lebih
mudah untuk memajukan negara ini dengan badan yang sehat dan otak yang sempurna.
Emas-emas seperti tercipta di dunia generasi tanpa harus menemukan sebuah
lokasi tambang yang hanya terdapat di daerah tertentu. Konsep telah dibuat dan
percayalah, dukungan untuk melahirkan generasi yang lebih baik tidak akan pernah
redup.