Rabu, 24 Juni 2015

Dimuliakan

Dimuliakan
Pernahkah Anda merasakan suatu momen dimana Anda akan berkata, "SO Swiit banget sih..." dalam hati maupun sambil berteriak. Dimuliakan mungkin menjadi kata yang tepat untuk mendeskripsikan momen tersebut. Ketika tidak ada bayangan akan terjadi, dan setelah terjadi kita tidak menemukan alasan yang memadai untuk diperlakukan “manis”.

Siapa yang biasanya menjadi pelaku utama momen manis itu? Bisa jadi siapapun. Manis yang berarti sebenarnya ataupun manis dengan tanda kutip. Seorang musuh bisa saja memberikan hal manis itu ketika kita melihatnya dari sudut yang positif bernama hikmah. Untuk arti yang sebenarnya, orang-orang yang mencintai kita selalu menjadi pelaku. Bahkan mereka tidak segan-segan meributkan diri mereka sendiri untuk membuat kita nyaman, aman, dan tentram.

Harga dari sebuah momen “dimuliakan” tidak pernah bisa dituliskan karena ia dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa sang target adalah sangat berharga. So sweet bukan? Sebagai gambaran, buatlah diri Anda melakukan sebuah survey kepedulian. Temukan target untuk “dimuliakan”. Kemudian pilihlah ia yang paling sulit untuk diberikan fokus perhatian. Lakukan hal menarik yang benar-benar ia sukai, pun tidak ia butuhkan.  Berikan penenang hati atau kata-kata indah. Ketika ia bertanya mengapa Anda melakukannya, berkatalah bahwa Anda memuliakannya.

Menemui masalah memang sesuatu yang menyebalkan secara teknis. Namun ketika kita tahu bahwa itu dirasakan sang target, kemudian kita melakukan itu untuknya, kira-kira apa yang akan dirasakannya? Beberapa kali saya menemukan kasus seperti ini, terutama dengan pelaku berasal dari kalangan keluarga sendiri. Orangtua sendiri.

Puisi tertulis untuk menyampaikan. Selama itu pula ketika maksud tercapai untuk menenangkan, dan benar-benar ia menjadi tenang, bayangkanlah senyum yang timbul darinya atas kehadiran kita. Senyum bernama “terima kasih”. Sesering mungkin, ia seperti memberi balasan. Tetapi bagi kita, haruslah itu menjadi parameter. Apakah kita berhasil memuliakannya, atau tidak. Lihatlah itu, semangat hidup yang ia pancarkan setelah kita memuliakannya.


Tertarik ?

Senin, 15 Juni 2015

Pohon Madani

Belajar Memahami Kebutuhan
Mentoring merupakan sarana pembangun umat. Mengikuti perkembangan zaman yang begitu kejam dan cepat, mengharuskan umat sadar bahwa memiliki pedoman hidup itu penting. Tujuannya sederhana, agar mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Setelah itu mampu bertahan dalam tekanan dunia ketika memilih yang baik, hingga akhirnya mampu untuk turut pula berladang dalam dakwah. Ketika umat telah mampu memilih dimana kebaikan itu berada, maka pembangunan di segala bidang keislaman akan mampu pula ditegakkan selayaknya membangun masyarakat madani.
Kata “Madani” yang berarti gambaran cita-cita jangka panjang mentoring untuk mewujudkan masyarakat Madinah pada masa Rosululloh. Gambaran yang terasa indah jika membayangkan bahwa itu dapat kembali diterapkan dengan mentoring yang terkondisikan. Madani dari akar-akar terkecil hingga pucuk daun di ranting teratas. Seperti pohon rimbun yang menyejukkan orang yang berteduh dibawahnya. Mentoring dengan follow up yang baik secara perlahan namun pasti dapat menumbuhkan benih mungil menjadi pohon rimbun itu.
Mentoring saya alami sebagai “paksaan” diawal dan “candu” diakhir. Proses panjang untuk mengubah dua kata tersebut. ketidaktertarikan terhadap mentoring yang tampak seperti kajian biasa pada saat mata pelajaran PAI di sekolah, membuat paksaan ini menjadi terasa menyiksa diawal. Ibunda yang secara sepihak memberi tanda contreng Rohis sebagai ekstrakulikuler SMP yang dapat saya ikuti, seolah menjadi satu-satunya alasan untuk tetap hadir dalam setiap mentoring. Sehari, dua hari, sepekan, sebulan, hingga berjalan lima tahun, kini sudah banyak alasan yang dimiliki untuk selalu hadir dalam setiap mentoring. Sudah banyak alasan untuk datang bahkan hanya dengan sekedar membayangkan kesejukannya seperti ketika berteduh di bawah pohon rimbun.
Analisis alasan dari dirasakannya kesejukan saat mentoring, saya bahasakan dengan kondisi ketika Anda sakit dan seorang kawan datang membawakan obat mujarabnya. Namun tidak semua orang menyadari bahwa ia sedang sakit, atau tidak semua orang tahu bahwa obat itu mujarab. Saya memposisikan diri bagaimana jika saya menjadi seseorang yang sedang sakit sekaligus pula jika menjadi seorang kawan yang datang membawa obat itu. Menjadi seseorang yang diberikan dan memberikan obat, memiliki peran yang penting untuk dilakukan bersamaan. Lautan ilmu Allah wajib dicicil semaksimal mungkin dan kembali ditumpahkan ke yang lain berupa kebermanfaatan atau minimal berupa transfer ilmu yang sama hingga bersama merasakan kesejukan itu.

Ini adalah impian bahwa esok pekan atau beberapa jam setelah mentoring terbentuk dan berjalan, saat itulah Islam berjaya Madani dengan rintik-rintik semangat ukhuwah selayaknya deras semangat rintik hujan. Semangat membentuk kualitas bersama kemudian memperluas jaringan kebaikan. Selebat daun si produsen oksigen. Mentoring yang menjadi aktivitas yang dirindu, yang menjadi kebutuhan setiap individu, adalah misi besar insan terpadu. Ya Robbi, bimbinglah kami.

Minggu, 14 Juni 2015

Ulang Tahun Wanita Jutek

Ulang Tahun Wanita Jutek
Pernahkah Anda merasa bahwa telah cukup memiliki teman? Saya pernah. Mungkin sering. Tiga tahun terakhir, ini menjadi semakin jelas dengan tanda yaitu semakin mahirnya saya memasang wajah jutek untuk mengakhiri sebuah obrolan.


                “Kakak jurusan apa?” Tanya seseorang kala itu.

                “Gizi.”

          Ulangi : “G-i-z-i-TITIK.”, kata saya dengan wajah jutek.

Dan berakhirlah pembicaraan itu.

Jahat ya?

            Saya bukan tidak menyadari bahwa saya jutek. Totally, saya sadar. Sadar penuh sejujurnya. Cara “jutek” itu sekedar saya gunakan sesekali ketika bertemu dalam situasi “saya butuh konsentrasi dalam kesendirian.”. Namun entah kenapa situasi ini menjadi sangat sering saya temui dalam hidup tiga tahun saya terakhir ini.

            Seiring berjalannya waktu, muncullah istilah “jutek” itu seperti lem yang jenis Alteco atau seperti detak jantung lirik dalam lagu “Dekat di Hati” yang selalu dibawa kemanapun RAN pergi. Mengekor tanpa niatan untuk melakukannya. Tanpa niat bahwa saya akan menyukai sebutan jutek, karena memang kalau saya menyukai sebutan itu ada pada diri saya pasti saya akan berusaha untuk mendapatkan gelar tersebut.

            Bagaikan pengertian dari cool yang sering dipakai oleh remaja gaul Amerika, jutek menjadi sesuatu yang keren. Pendapat ini bukan tidak berdasar. Dari seluruh film bergenre western yang saya tonton, setiap kali ada seorang aktor wanita ataupun pria dalam film tersebut memerankan tokoh yang cool,  pasti akan bersikap jutek. Cowo jutek itu cool. Cewe jutek itu juga cool. Secara psikologi, mereka akan menimbulkan reaksi psikis yang disebut dengan “penasaran” sehingga merangsang motorik untuk bekerja. Membuat orang-orang di sekitarnya secara positif akan bertambah dekat, atau secara negatif akan menjauh. Itu pilihan.

            Paragraf di atas hanya sebuah cerita selingan yang mungkin bisa dijadikan referensi skripsi Anda. Mungkin tidak juga tidak masalah. Sekali lagi, Anda harus mengenali baik-baik bagaimana sifat jutek itu bisa jadi sesuatu yang selalu ada pada diri seseorang. Tidak masalah karena jutek adalah pendamping sejati dari karakter cuek. Jarang sekali orang jutek akan menjadi orang yang pertama menyapa dalam sebuah per-sapa-an. Ialah yang selalu akan disapa. Persepsi negatif sombong ujung-ujungnya akan diterima. Itu pilihan.


            Apa yang terjadi ketika wanita jutek yang menulis artikel ini sedang berulang tahun?


            Saya begitu terpukau dengan kalimat romantis Daniel Bruhl dalam film Rush, ketika akan melangsungkan janji setia.

            “Aku harus memperingatkanmu. Aku tidak pandai dalam hal ini. Membawa bunga dan berpegangan tangan. Mungkin aku akan lupa hari ulang tahunmu. Tapi jika aku harus menikah dengan seseorang, orang itu adalah dirimu.”

Dijawab oleh Alexandra Maria Lara,

            “Astaga, kau berpuisi!” dengan senyum yang menurut saya merupakan hasil dari sejumlah persepsi positif dari “menerima apa adanya” dan “itulah spesialnya dirimu” serta “aku mencintaimu, sungguh.”.
            Romantis, bukan? Bolehlah sekali lagi Anda baca dan perhatikan, disana terlalu banyak poin dari sifat jutek yang diperankan Daniel Bruhl. Saya baru menonton film ini sekitar lima bulan yang lalu, tetapi saya telah melakukan hal yang persis sama dengan ucapan Daniel tersebut sejak dua setengah tahun sebelumnya. Tanggal lahir yang benar-benar saya ingat sepanjang hari, sepanjang waktu tanpa kesalahan berarti jika diminta untuk menyebutkannya hanyalah hari lahir ayah, ibu, kakak, dan dua adik lelaki saya. Maafkan.

            Tapi,

            Oh come on… Saya memang tidak merayakan ulang tahun.

            Seperti hari ini, sebetulnya saya sangat berhati-hati dalam bersikap ketika hukum aksi-reaksi benar-benar adil untuk terjadi dalam kehidupan ini. Ketika kita melakukan sesuatu kepada orang lain, maka di saat yang sama kita harus bersiap untuk mendapat perlakuan yang sama. Seperti hari ini, tanpa mengurangi rasa syukur dan hormat saya, sejujur-jujurnya saya tidak berharap akan banyak orang yang mengingat peristiwa tanggal 14 Juni pada dua puluh satu tahun yang lalu. Akui saja, Anda yang tahu karena reminder dari Facebook bukan?

            “Hehe,” kata si hati dengan senyum licik.

            Namun inilah yang terjadi. Do’a itu mengalir, dengan penerimaan malu-malu si hati. Bahwa mengingat dari reminder tidak seburuk itu. Bahwa ketulusan bisa diperoleh kapan saja tanpa mengurangi keberkahannya.

            “Aamiin…”
           
            Bahwa akan ada definisi kebaikan yang baru dari kalian, yaitu kebaikan adalah sikap mengucapkan do’a kepada orang lain yang bahkan tidak mengingat ulang tahun orang yang mengucapkan do’a tersebut.

            Seperti hari ini, ketika rencana rahasia seorang teman terbongkar dengan lucu. Ketika saya bahkan 12 jam beraktivitas di luar rumah hari ini. Ketika bahkan saya sangat lupa untuk menyediakan waktu bagi mereka yang berdefinisi kebaikan seperti tadi. Saya hanya teringat untuk tidak mengharapkan apapun, maaf. Tetapi tetap saja akan ada orang berdefinisi kebaikan yang bermunculan. Mereka adalah parameter intropeksi. Sedang jutek adalah parameter kebaikan : apakah Anda termasuk orang berdefinisi kebaikan atau tidak.

            Terkhusus Anda-Anda, para korban ketidakpernahan menerima ucapan selamat ulang tahun.

Dua lembar permintaan maaf,
                                                                        Kisah edisi Juni tertanggal 14


Mari jutek,
Mari menundukkan pandangan

: )


Sabtu, 13 Juni 2015

Korelasi Tinggi

Korelasi

Masa depan Indonesia tak ubahnya sebuah kesulitan besar yang mayoritas dirasakan oleh penduduk aslinya. Kesulitan ini adalah bagian dari keinginan untuk mewujudkan hari esok yang penuh dengan kecermelangan penataan kehidupan. Penduduk asli Indonesia yang dahulu disebut sebagai “pribumi” beramai-ramai secara jelas menjadi down to earth yang disalahartikan. Terkait masalah ekonomi, pangan, atau bahkan kebahagiaan yang sepertinya terlihat sepele dengan buru-buru menyatakan globalisasi sebagai pelakunya, penduduk asli Indonesia terletak “paling dekat” dengan bumi sementara beberapa orang hidup di tingkat seratus sebuah apartemen yang sangat jauh dari bumi. Globalisasi dapat kembali menjadi “kambing hitam” jika tidak ada masa depan yang direncanakan secara benar oleh para pejuang “program pencerahan masa depan”. Serangan barat tidak pernah disetarakan dengan istilah “globalisasi”, padahal hampir seluruh media menawarkan dengan rayuan manisnya segala hal tentang budaya barat dengan ambigu hingga sengaja dimaksudkan untuk disalahgunakan.

Kesulitan mewujudkan masa depan Indonesia yang cerah, bagi beberapa orang seperti yang disebutkan di atas dapat memiliki makna yang tidak sama. Tidak lagi perlu merasa kaget setelah mengetahui bahwa hal-hal yang terjadi di Indonesia merupakan hal yang diatur melalui sebuah skema panjang dan tersusun rapi. Orang-orang cerdas itu membuat strategi khusus dengan maksud yang spesifik. Tentu mereka cerdas, karena mereka peduli dengan kepentingan kelompok mereka walaupun memilih cara lain yang berbeda dengan fitrah jalan pikir manusia. Cara yang berbeda ini dapat berupa mengambil jalan dengan membunuh yang lain atau membolak-balikkan fakta dan kata. Sungguh terkesan sebuah jebakan berselimut ajakan. Seseorang yang sangat berhati-hati pun dapat masuk ke jaring mereka, jika tidak berpikir jauh lebih dalam dan menganalisis dengan teliti maksud dari kata-kata yang mereka ucapkan.

Indonesia memiliki sebuah potensi raksasa untuk dua pilihan, berkembang atau menjadi hancur. Raksasa disini diartikan benar-benar luar biasa besar, juga dikarenakan dua hal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dengan jumlah penduduk terbesar dan gejala-gejala berubahnya nilai moral dan ideologi penduduknya telah mengarah pada level yang lebih tinggi. Beberapa sebab terkait perubahan ini dapat memberi penjelasan bahwa strategi para misionaris atau siapa pun mereka, mulai terasa secara luas. Penduduk Indonesia menjadi fokus utama setelah mereka menyadari bahwa penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam dapat dijadikan boneka lambang kebodohan iman abad ini. Mereka mengerti dengan baik jika kenyataan ketika seluruh kepintaran orang-orang berkumpul di Indonesia dengan mayoritas muslimnya dapat terjadi, sebaliknya mereka menetapkan itu adalah masa kehancuran. Pada saat satu miliyar muslim memprotes keanehan mereka yang biasa disebut dengan kebijakan dunia, hari itu pula syaraf dan urat nadi di setiap tubuh mereka menyatakan bahwa itu adalah bencana.

Perbedaan yang mencolok tentu dapat diwujudkan dengan suka ria sesuai dengan pedoman asli dari pemberian Allah SWT. Sistem umum yang berlaku saat ini dirancang oleh mereka yang tidak berpedoman syari’at Islam. Mereka menyebut sistem ini sebagai “Standar Internasional” dengan menawarkan jalan lain yang terlihat lebih mudah padahal melanggar syari’at. Keputusan tanpa pedoman yang syar’i inilah yang menjadi masalah besar. Bayangkan saja jika aturan Islam yang jelas-jelas tidak terdapat unsur yang menyulitkan atau merugikan bagi pelaksananya, dilanggar terus-menerus. Opsi kedua adalah bayangkan saja jika penata sistem di Indonesia tidak dengan sendirinya merancang aturan, tetapi berpegang pada Al Qur’an dan Hadist. Masa depan Indonesia terselamatkan dan setiap penduduknya menjalankan Islam dengan sungguh-sungguh pada setiap aspek kehidupan.

Masa depan Indonesia yang dibicarakan disini tidak khusus diarahkan pada sebuah negara bernama “Indonesia”. Kehancuran saudara jauh pun dapat menjadi tanda hancurnya agama yang paling diridhoi ini di bumi Indonesia. Lantas pilihan tidak selalu tertuju pada menunduknya muslim Indonesia pada kebijakan non-Islam. Muslim-muslim di Indonesia harus maju membawa negara ini pada masa depan yang cerah dunia akhirat. Inilah korelasi tingkat tinggi masa depan Indonesia dan seorang muslim yang memimpinnya. Masa depan Indonesia terbayang jelas dan bersih karena diwujudkan atas nama Allah dan ridho-ridhoNya mengalir menyertai seluruh langkah-langkah ini. Politik menjadi strategi lain dalam melaksanakan aturan Islam, menerapkan Islam secara nyata, memaksakan Standar Internasional yang terlanjur disahkan oleh dunia dilakukan secara Islami mulai dari wilayah terdekat, di negara Indonesia.

             Para pejuang “program pencerahan masa depan” harus segera merapatkan barisan. Kelompok kecil dan individu menjadi kuat dalam satu barisan rapat, tanpa celah untuk dibubarkan atau dipengaruhi cara pandang yang lain.  Tidak ada kemungkinan tentang terjadinya masa depan cerah, jika hanya menuntut tanpa melangkahkan kaki dan mencoba meraihnya. Para muslim negarawan yang baik melangkah maju dengan tegap menjadi kumpulan pemimpin besar Indonesia, yang memperbaiki kesalahan sistem menjadi benar dan mengubah ideologi mayoritas menjadi kecintaan total pada Allah dan rasul-Nya.

Jumat, 12 Juni 2015

Emas Dunia Generasi

Generasi Emas
         Mari bermain istilah. Generasi merupakan salah satu kunci dalam melihat perkembangan, baik perkembangan sebuah struktur hidup atau mati. Perkembangan pada istilah “generasi” pun telah mengajak saya untuk menyinggung istilah lainnya, dikarenakan secara tidak langsung remaja seperti saya termasuk bagian didalamnya, yaitu generasi muda. Masa-masa indah, kata sang remaja. Periode yang ingin kembali dirasakan oleh generasi tua. Atau dapat pula memberi penjelasan tentang masa-masa unjuk gigi dan para pengunjuk gigi tersebut dalam keinginan yang sangat kuat untuk membina diri, mempersiapkan  masa depan, memproduksi telaga keringat, melelahkan jari kaki, hingga membuat lebarnya senyuman saat kesuksesan mereka raih. Memang tak semua generasi muda pada saat ini benar-benar persis dengan definisi barusan. Tidak jelas ada atau tidaknya generasi muda yang hidup secara “khusus”, “tidak biasa”, bahkan “aneh” seperti itu. Sebab mayoritas adalah orang muda sukses sudah banyak namun di antara mayoritas, mereka minoritas. Saya sekali lagi menyatakan diri sebagai generasi muda, tetapi tidak sebangga pernyataan pertama saya di awal tulisan ini, karena ruangan kuliah saya yang rata-rata ber-AC dan padatnya jadwal keberadaan disana membuat saya tidak berkeringat sebanyak itu. Definisi akhir yang akan saya tuangkan tentang generasi muda adalah periode ini sungguh merupakan masa berharga untuk memaksimalkan diri dalam penciptaan kreasi terhormat yang disebut dengan istilah “prestasi”.
            Generasi seperti halnya dalam istilah pertanian “bibit”. Bibit unggul tidak diperoleh dari tanaman non-unggul. Diperlukan seleksi untuk mendapatkan bibit paling bagus dari tanaman non-unggul itu. Atau dapat dilakukan perawatan mendalam pada tanaman non-unggul hingga menghasilkan bibit unggul. Namun bibit paling bagus diantara bibit tidak bagus akan kalah kualitas dengan bibit unggul diantara bibit dari tanaman unggul. Kemudian tetap saja akan memberi istilah yang sama dengan kalimat pertama paragraf ini dikarenakan perawatan mendalam akan membuat tanaman non-unggul menjadi unggul, kemudian ia menghasilkan bibit unggul.
            Generasi yang baik seperti halnya pada tanaman berawal dari proses yang tidak sederhana. Ketika yang melahirkan generasi bukan dari kualitas yang paling baik, sebaiknya ditunggu saja lahirnya generasi yang juga bukan paling baik. Saya pun meyakini logika lama itu. Saya menyebutnya logika lama karena Anda pun dapat berceloteh, “Tradisinya begitu.”. Saya tidak tahu jalan pikiran Anda, namun yang saya pikirkan adalah menunggu tidak berarti tidak melakukan apapun. Bukan pasif atau sekedar menopang dagu menanti hal buruk akan terjadi. Sebaliknya, sementara menunggu, perubahan laku harus dilakukan pada generasi yang masih dan akan ada. Generasi yang belum terkena perlakuan salah itu harus diselamatkan.
Teori menjelaskan bahwa tanggung jawab terbesar untuk kelahiran generasi yang baik adalah yang melahirkan generasi itu sendiri, yaitu orang tua. Orang tua dari sebuah generasi memiliki peran utama untuk membuat baik generasi yang dilahirkannya.  Memang pada awalnya bibit unggul tidak terkalahkan. Logika itu mendukung sang bibit unggul menjadi pemenang dalam setiap hal karena dilahirkan dari tanaman unggul. Namun logika tidak didukung oleh fakta-fakta kehidupan nyata. Fakta tidak dapat menyalahkan orang tua dengan serta-merta akan anemia yang diderita sang ibu, sehingga melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Kemudian fakta juga tidak dapat menuntut orang tua cacat untuk tidak melahirkan bayi cacat. Tetapi karena orang tua jelas merupakan penanggung jawab satu-satunya atas sang bayi, maka ada cara lain untuk “menghakimi” mereka secara cerdas. Saya lebih suka menyebut ini dengan “membantu mereka untuk bertanggung jawab”. Istilah “menghakimi” terlalu kasar, namun saya masih akan menggunakannya untuk beberapa kepentingan langka ini.
Generasi diharapkan berkembang menjadi generasi yang baik. Cara cerdas “menghakimi” orang tua adalah mewajibkan mereka mewujudkan harapan itu. Mereka wajib merawat anak-anak mereka menjadi penerus setiap hal baik yang ada pada mereka, dapat berupa kepintaran, kebijaksanaan, atau hal yang tidak ternilai harganya yaitu kesehatan.  Istilah baik diawali dari baiknya kerja tubuh. Tidak pernah ada yang menyangkal pernyataan bahwa kesehatan tubuh yang optimal dapat membuat produktivitas kerja yang maksimal. Saat sehat, target tertinggi pun dapat diraih. Kemungkinan yang sama masih ada untuk kasus pada saat sakit. Hanya saja terdapat perbedaan yaitu keadaan setelah pencapaian target tersebut. Si sehat dapat tetap menjadi sehat, dapat pula menjadi kelelahan yang berakibat sakit. Namun faktor resiko terbesar ada pada si sakit yang dapat menjadi kesulitan ketika menghirup oksigen, harus membayar untuk bernapas, atau paling berbahaya jika oksigenlah yang tidak terhirup oleh tubuh karena si sakit tidak lagi bernapas.
Perawatan mendalam pada bayi seperti yang saya katakan di awal harus dilakukan oleh orang tua hingga bayi mereka sehat dalam jangka panjang. Jangka panjang berarti tidak mudah sakit dan hubungannya berkaitan erat dengan waktu pelaksanaan perawatan mendalam tersebut. Bayi menjadi titik perhatian karena pada saat itulah waktu yang tepat, untuk memaksimalkan salah satu bibit generasi masa depan ini sehingga memiliki kesehatan paling baik. Namun bayi merupakan makhluk hidup terlemah versi saya. Sederhana saja, selama saya melihat mereka hanya dapat menggeliat dalam lilitan kain bedong, saya menyebut mereka lemah. Tepat sekali. Dulu saya sempat mengalami fase menjadi bayi, tidak dalam sekejap menjadi perempuan 18 tahun. Karena itulah saya tadi bukan sedang menghina bayi dengan menyebut mereka lemah. Saya terpanggil untuk merawat mereka.
Kelemahan bayi adalah mereka terlalu banyak dibebani proses penyempurnaan sel-sel dalam tubuh mereka, padahal mereka belum dapat membaca, menulis, apalagi menghitung. Mereka begitu lemah untuk menanggung tanggung jawab sebanyak itu. Mereka belum dapat memberontak. Mereka belum dilatih cara berteriak orang normal. Tubuh mereka pun berukuran kecil, padahal ada jutaan proses sedang mereka alami dalam tubuh mereka. Jutaan proses yang menentukan kesehatan mereka hingga dewasa dan tua. Jutaan proses yang telah dimulai jauh sejak mereka diizinkan untuk memiliki sel yang pertama. Bayi yang lahir prematur atau cacat seperti halnya bibit non-unggul pun telah mengalami proses-proses itu. Mereka sangat lemah. Mereka perlu didampingi untuk dapat melewati keseluruhan proses dengan sukses. Generasi mudalah yang menuntun saya dan Anda harus ikut mengambil bagian menjadi bibit unggul, walaupun terlambat karena kita bukan lagi bayi, bukan berarti kita tidak berkesempatan untuk membuat perubahan. Saya dan Anda hanya perlu menyehatkan diri berubah menjadi raga tersehat tingkat tata surya. Saya dan Anda harus mewariskan sebuah bibit unggul, inilah rencana masa depan kita.
Bibit unggul dapat menyesuaikan diri dengan segala pola lingkungan hidup, sehingga segala jalan terbuka untuknya menjadi segala bentuk dan peran. Segala pengaruh yang memasukinya, memberi kesempatan bagi bibit unggul untuk berubah walaupun itu adalah perubahan tidak diinginkan. Akan sangat baik jika bayi yang perkembangannya masih tergantung pada perlakuan orang tua padanya, rencana matang untuk bayi berkembang telah disiapkan sedini mungkin. Para ahli gizi memberikan rumusan “1000 Hari Pertama Kehidupan” untuk rentang waktu sensitif pemberian fokus terhadap perkembangan anak. Ibu hamil harus mulai memikirkan masa depan anak yang akan dilahirkannya sejak sang ibu menyadari bahwa ia sedang mengandung. Kepentingan krusial dari hal itu adalah sang ibu akan menambahkan seorang anggota lagi pada generasi muda Indonesia, generasi yang merupakan isyarat potensial akan lahirnya generasi emas.
Mari bermain analisis. Generasi emas terbentuk dari produktivitas dan keaktivan orang-orang dalam generasi muda. Generasi emas memiliki gambaran tentang periode pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang cepat pada usia muda (Golden Age). Kecepatan ini dapat digambarkan dengan beberapa istilah lainnya yang berkaitan erat dengan fungsi-fungsi tubuhnya. Saya mencoba memisalkan deskripsi kecepatan ini dengan memfokuskan pada perbandingan beberapa pengamatan.
Kunci awal lahirnya anak adalah adanya janin dalam kandungan ibu. Kesehatan janin memiliki posisi yang setara dengan kesehatan ibu. Jika ibu tidak sehat, maka dapat dipastikan bayi akan ikut menerima pengaruh dari penyakit ibu. Janin yang sehat berasal dari ibu yang sehat. Janin yang sehat pada saat lahir juga akan menjadi bayi dengan kesehatan yang baik. Volume lambung bayi baru lahir adalah 10-20 ml. Perlu diketahui bahwa pada umur satu tahun volume lambungnya adalah 200 ml. Dalam satu tahun, volume lambung bayi berkembang 10 kali lipat. Dosen mata kuliah Gizi Kelompok Khusus saya mengatakan dalam kuliahnya, ini hanya salah satu dari sekian banyak bukti pesatnya perkembangan tubuh bayi. Berat badan, panjang badan, sekresi enzim pencernaan maupun kecukupan energi bayi juga berkembang secara pesat. Bayi memiliki berat badan dua kali lipat berat lahirnya pada hari ke 120-160. Usia 12 bulan, beratnya menjadi 3 kali lipat berat lahir serta panjang badannya menjadi 2 kali lipat panjang lahir. Rate ini tidak menciptakan sebuah rumus bahwa dalam satu tahun volume lambung manusia akan membesar hingga sepuluh kali lipat. Perkembangan pesat bayi ini perlu dipersiapkan sebaik mungkin, jauh sebelum bayi dilahirkan.
Kemampuan pengosongan lambung pada bayi masih lambat tergantung ukuran makanan atau porsi hidangan dan komposisi makanan. Saat baru dilahirkan, sekresi pepsin dan tripsin telah dapat diproduksi. Aktivitas enzim rendah namun cukup untuk mencerna protein susu (ASI). Enzim maltase, isomaltase, dan sukrose cukup diproduksi pada usia 28-32 minggu. Laktase jumlahnya tinggi saat lahir untuk mencerna laktosa pada susu. Tidak banyak makanan yang cocok untuk bayi pada masa perkembangan pesat ini. Saya pernah menjadi seorang pengasuh bayi selama beberapa bulan. Salah sedikit saja akan mempengaruhi bayi secara langsung, baik itu pengaruh pada kondisi kesehatan atau perilaku.
Bayi yang saya asuh adalah adik saya sendiri yang kini berusia 9 tahun. Bagi seorang anak SD, menjadi pengasuh tidak lain seperti hukuman. Sangat merepotkan dan melelahkan. Sangat mudah untuk mengetahui gejala mereka saat lapar atau tidak. Masalah yang besar terjadi ketika belum terbiasa untuk mengerti kemauan mereka, sehingga mereka dapat kembali tenang. Misal bayi diberikan makanan, belum pasti mereka akan benar-benar menghabiskan makanan yang disuapkan. Bayi tidak memilih-milih makanan, mereka belum dapat melakukannya. Tetapi mereka sudah mampu muntah. Mereka bisa tidak menelan makanan di dalam mulut mereka. Saat sudah tertelan pun, mereka belum tentu dapat mencernanya melalui organ tubuh mereka yang belum sempurna.  Dampak dari makanan yang masuk ke tubuh mereka ada dua pilihan: menyehatkan atau membawa penyakit. Dampak ini juga berlaku untuk orang dewasa namun lebih mudah terjadi pada bayi.
Perkembangan bayi belum menjangkau tahap kemampuan menganalisa lingkungan sekitar yang dapat menyebabkan perubahan, baik positif maupun negatif. Hingga tahap itu tercapai, orang tua yang akan mengerjakan keseluruhan proses menganalisa itu. Saya mulai menyukai khayalan di bagian ini. Kali ini saya akan mengajak Anda berimajinasi. Mari bermain imajinasi. Pemilihan makanan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin dan bayi merupakan masalah serius untuk dicari solusinya. Saya menyukai makanan lezat namun sejak saya menjadi mahasiswi gizi saya mengetahui bahwa saya tidak membutuhkan makanan lezat. Saya membutuhkan makanan yang tubuh saya perlukan. Tetapi akan sangat membingungkan jika tidak banyak pengetahuan tentang jenis makanan yang harus dikonsumsi supaya sehat. Sungguh menarik ketika menginginkan suatu  makanan, saya dapat langsung melihat daftar makanan yang dapat saya pilih untuk dimakan. Ini berarti sudah ada acuan yang dapat memberi ketertarikan kepada saya untuk tetap memakan makanan sehat.
Gejala tidak nafsu makan dan mual yang kebanyakan dialami oleh ibu hamil selama masa-masa awal kehamilannya, mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi untuk ibu maupun janin yang dikandungnya. Selama ibu dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan, maka janin akan menjadi sehat hingga saat dilahirkan dan tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat. Saya seringkali tidak terpikirkan akan jenis makanan yang akan saya konsumsi pada saat makan siang. Namun setelah menjumpai sebuah warung makan yang menampilkan daftar menu yang disajikan, saya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan makanan-makanan yang saya ingin makan pada saat itu.   Kemungkinan besar ibu hamil tidak memiliki inisiatif apapun untuk mengkonsumsi makanan karena terlalu fokus dengan rasa mual yang dialaminya. Setelah melahirkan pun, ibu hanya mengenal beberapa produk bubur bayi instan karena melihatnya pada iklan di televisi. Bayi hanya mendapat nutrisi kimia yang memiliki kualitas gizi rendah dan memperberat kerja sistem perncernaan bayi. Ibu tidak menyadari bahwa dengan memberikan makanan itu kepada bayinya, mereka sebenarnya telah menganggap enteng masalah kesehatan anak mereka hingga mereka dewasa. Ibu perlu diberi saran-saran dengan cara yang menarik bagi mereka untuk membuatkan atau mengkonsumsi makanan terbaik untuk masa depan anaknya. Daftar makanan dengan menu yang beragam setiap harinya dan kandungan gizi yang tepat dibuat di setiap rumah sebagai ‘pemancing’ nafsu makan makanan sehat.  Ide ini dapat menjadi referensi untuk mengembangkan perencanaan menu yang baik bagi ibu dan bayi selama masa pertumbuhan dan perkembangan 1000 hari pertama kehidupan bayi.
Sampai di bagian akhir yang saya paling sukai diantara semua kesukaan saya di tulisan ini. Mari beraksi. Itu bukan judul lagu yang dinyanyikan oleh band Kotak. Tetapi saya mengajak Anda untuk bangkit dari kursi empuk Anda sekarang juga, dan mulai berusaha meraih kursi empuk Anda lainnya yang permanen Anda yang ada di masa depan dengan melakukan langkah nyata. Perbaikan gizi tidak mudah dirasakan perubahannya karena objek yang sangat banyak dan bahkan kemungkinan jumlahnya dapat lebih dari satu di setiap atap rumah. Dengan rasa tanggung jawab secara menyeluruh dari setiap orang tua terhadap anaknya, dapat dipastikan bayangan bertaburannya emas-emas dunia generasi di negara ini akan menjadi nyata. Generasi muda yang siap menjadi generasi emas pengukir prestasi karena orang tua cerdas yang memperhatikan mereka. Orang tua cerdas yang terlatih berasal dari kerja keras bimbingan orang-orang pintar yang memberi arahan kepada mereka untuk hidup sehat.
Saya yakin telah muncul beragam ide tentang makanan-makanan sehat yang harus dikonsumsi ibu hamil dan bayinya. Tetapi ide pengarahan konsumsi makanan yang sehat namun tidak membosankan, dan dapat diterapkan dengan mudah di kalangan menengah dan menengah ke bawah, memerlukan penjabaran lebih mendetail dari para ahli gizi karena status gizi dan tingkat kemampuan ekonomi mereka berbeda. Setiap posyandu harus ditempatkan beberapa ahli gizi. Mereka dapat menjelaskan dan membuatkan ibu perencanaan menu yang sesuai bagi ibu dalam rentang waktu tertentu kemudian ibu dapat kembali lagi untuk meminta perencanaan menu yang baru ketika rentang waktu tersebut telah habis. Generasi emas menjadi lebih mudah untuk memajukan negara ini dengan badan yang sehat dan otak yang sempurna. Emas-emas seperti tercipta di dunia generasi tanpa harus menemukan sebuah lokasi tambang yang hanya terdapat di daerah tertentu. Konsep telah dibuat dan percayalah, dukungan untuk melahirkan generasi yang lebih baik tidak akan pernah redup.

Kamis, 11 Juni 2015

Apa itu Kebaikan?

Berbuat Baik : Kapanpun, Dimanapun

Kebaikan itu,
Aku melihat itu dengan mata kepalaku sendiri.
Seorang bapak mengerem motornya mendadak,
Membuatku jengkel dan lebih menjengkelkan lagi
                ia merentangkan tangan kanannya,
                mempersilahkan seorang bapak yang umurnya lebih tua
                untuk lewat terlebih dahulu
                untuk menyebrang jalanan aspal sibuk tanpa zebra cross
                di lampu merah Perum Tamara Duta,
                dimana rumah kontrakanku berada
Kebaikan itu,
Aku melihat itu dengan mata kepalaku sendiri.
Seorang kakek bertas punggung sebuah karung.
Yang berdiri membungkuk pada sebuah tempat penuh sisa rumah tangga
Yang aku berjalan menujunya sambil berpayung
Di bawah gerimis Kelurahan Tegal Gundil Kota Hujan
                tas berat yang menghalangiku
                oh bukan,
                imanku saja yang mungkin tak cukup
                untuk membongkar isi tas yang tak rapi
                mengambil dompet untuk aku keluarkan selembar uang warna biru tua
                jantung bepacu
                tapi aku masih mampu
                melewati ia tanpa tangan di atas
                dan menolehkan kepala menyesal
                kemudian melihat sebuah mobil berhenti
                tepat di samping ia yang mengais
                kaca jendela yang turun
                dan tangan itu di atas
                tapi bukan tanganku
Kebaikan itu,
Aku melihat itu dengan mata kepalaku sendiri.
Seorang ibu membuka plastik makanan ringan
Di sepinya kereta terakhir menuju Jatinegara
                makanan ringan yang sama,
                seperti yang aku sukai hingga beranjak umur dewasa ini
                yang menggodaku untuk melirik ke arah suara plastik dibuka itu.
                kemudian tangannya pula melambaikan diri
                memberi kode disertai suara panggilan
                kepada seorang pemuda cleaning service untuk mendekat
                kemudian sang ibu menyerahkan sebungkus plastik hitam
                “Pilih aja mau chiki apa roti,”
                dan dilanjutkan, “Semuanya ambil”
                tak mampu aku menebak usia pemuda itu,
                yang berterimakasih sembari tersenyum.
                yang membuat kesima aku yang duduk berpangku netbook,
                mengganti begitu saja lembaran baru Microsoft Word,
                -dari sebelumnya lembaran aturan KPR KAMMI Daerah Bogor-
                menjadi paragraf sederhana penuh irama :
                takbir, tasbih, tahmid yang menyatu...

                

Rabu, 10 Juni 2015

Saya Pintar

Prioritas Kesehatan Sedari Dini

Saya Pintar

            Saya cukup mengetahui bahwa saya pintar. Ketika saya menyadari itu saya cukup dapat memastikan bahwa Anda akan bergumam “Sombong sekali kau”. Kemudian seketika ini pula Anda akan kembali bergumam “Negatif aja ni orang”. Saya pintar dengan otak saya yang berkembang sempurna, pengenalan lingkungan yang diberikan orang tua dengan baik, dan pendidikan yang seimbang dengan kebutuhan harian saya. Anda tidak perlu menyatakan diri sebagai orang negatif dengan berpikiran yang tidak baik tentang pernyataan saya ini. Disini saya berniat menyombongkan impian besar saya untuk menjadi pintar. Saya tidak menggagalkan pernyataan bahwa saya pintar dan untuk saat ini pintar masih menjadi mimpi saya, karena saya tahu saya memang pintar. Namun saya pun tahu bahwa pintar tidak memiliki ujung jalan yang membuat kita berhenti untuk belajar, saya bermimpi untuk menjadi pintar.
            Pintar dapat disejajarkan maknanya dengan kata cerdas. Keduanya memiliki arti keadaan seseorang yang mampu berpikir dengan tepat dan menemukan jalan keluar suatu masalah. Berpikir dengan tepat termasuk dalam kategori cara seseorang dalam memandang suatu masalah. Saya menyatakan dengan tegas bahwa pintar adalah suatu keadaan. Seorang ahli mengetik yang sudah mahir mengetik, mengambil cuti 3 bulan dan selama itu pula ia tidak melakukan kegiatan mengetik, maka ia dapat berbalik menjadi seseorang yang tidak pintar mengetik. Keadaan ini faktual dalam kehidupan sehari-hari. Beragam faktor penyebab dapat mengakibatkan si pintar mengalami pensiun dini. Saya teringat dengan perbedaan kesan yang ditimbulkan istilah “pintar” dan “cerdas”. Pintar seperti berhubungan erat dengan nilai akademis, sedangkan cerdas berhubungan dengan hal non-akademis. Walau terkesan memiliki makna yang berbeda, pintar dan cerdas selalu berdampingan dalam bekerja. Setiap kali menjalankan peran, pintar yang terbiasa akan membuat keadaan pintar menjadi cerdas.
            Pelatihan pintar bukan sekedar wacana. Ketika usia telah beranjak jauh dari usia bayi, pintar masih dapat diwujudkan demi mendukung keadaan sehari-hari anak yang lebih baik di masa depan. Pelatihan ini dapat diberikan oleh siapa saja dan dimana saja. Cara-cara tertentu juga tidak tertulis dalam buku Pedoman Umum Pelatihan Pintar. Saya ralat, buku dengan judul seperti itu bahkan kemungkinan besar tidak ada. Pedoman itu seperti layaknya hukum adat istiadat yang tidak tertulis, namun dalam mengikat setiap orang yang menjadi bagiannya.
            Kelebihan pintar yang paling mencolok adalah cara menanggapi yang cermat dan cepat pada saat menghadap suatu kejadian. Saya begitu menyukai cara bola basket memantul di permukaan lapangan basket. Bola basket akan memantul kapan saja bola basket mengenai permukaan lapangan basket. Tidak peduli bola basket dipantulkan dengan kekuatan lemah, sedang, atau keras. Tidak bergantung pula pada pagi buta, siang hari, setelah fajar, atau saat merahnya mega menyingsing sore yang dingin, bola basket akan memantul. Harus dicatat berulang kali bahwa bola basket akan selalu memantul di permukaan lapangan basket. Setelah dicatat, perhatikan kembali bahwa ‘faktor keberhasilan memantul’ dipegang oleh bola basket. Dengan standarisasi yang sama akan menghasilkan rumusan bahwa jika bola basket bermasalah, besar kemungkinan bola basket gagal memantul.
            Sebanyak usaha memantulkan bola basket di permukaan lapangan basket, sebanyak itu pula harus dicermati terlebih dahulu akan hal-hal tentang dorongan utama yang membuat bola basket dapat memantul. Potensi bola basket adalah dorongan itu. Potensi tersebut bukan dibuat ketika bola basket sudah laku dijual kepada pembeli. Toko olahraga tidak menjual karet mentah untuk diproses sendiri oleh pembeli menjadi bola basket. Saya sering mendapatkan bola rusak namun dengan bentuk fisik yang baik. Saya mencoba membuat bola tersebut memantul dengan terlebih dahulu berkonsultasi bersama ‘ahli strategi memantul’ ekstrakulikuler basket ketika duduk di bangku SMA yang ternyata sia-sia. Bola tersebut benar-benar rusak. Struktur bola basket tidak lagi layak guna. Bola basket tidak memiliki potensi memantul yang memadai.
Perencanaan panjang dipersiapkan oleh perancang bola basket, untuk membuat bola basket potensial siap pakai yang dapat menyumbang prestasi. Bahan baku karet diteliti kualitasnya secara ilmiah dan ribuan uji coba pantul dilakukan untuk membuat bola basket memantul dengan baik. Pelaksanaannya tidak tiba-tiba dan seadanya. Tidak pula dengan tergesa-gesa sehingga banyak detail penting yang terlupakan. Kecermatan dalam memperhatikan waktu, anggaran, dan penenatalaksanaan dilengkapi dalam satu berkas proposal perencanaan masa depan bola basket. Perencanaan oleh orang-orang hebat bernama orang tua.
Saya begitu senang menggambarkan perencanaan ini melalui pembentukan ‘keluarga basket’ seperti halnya keluarga manusia. Bola basket adalah sang anak. Hingga umur yang sangat dewasa, sang anak adalah sebuah bola basket. Potensi bola basket mewakili kualitas fisik dan psikis anak. Ketika muncul pertanyaan tentang pemilihan bola basket dan bukan bola sepak saja, saya cukup menjelaskan dengan teori bahwa bola sepak rusak pun dapat ditendang dan menghasilkan gol. Hal ini tidak sama dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. Keadaan tidak sehat membuat manusia tidak dapat memberikan produktivitas maksimalnya, sehingga tidak maksimal pula prestasi yang dihasilkan. Jauh sebelum hari kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan anak telah ada. Perencanaan menuju prestasi Indonesia yang mencakup kehidupan tiga miliyar penduduk Indonesia dimulai dengan menyehatkan satu orang ini.
Instansi pemerintah memberi sebutan untuk proyek pembuatan prestasi skala besar ini dengan nama ‘Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan’. Pengaruh yang ditargetkan dalam gerakan ini bukan lagi untuk orang-orang dengan satu masalah dalam satu rumah. Namun total dari seluruh masalah-masalah itu dikalikan dengan jumlah rumah warga di Indonesia. Bayi dan ibu hamil beserta janinnya bukan titik masalah, namun peristiwa penting banyak terjadi pada kehidupan mereka sehingga mereka menggenggam peran besar untuk menimbulkan masalah di Indonesia. Ibu hamil yang tidak sehat akan mengurangi porsi peluang lahirnya bayi yang sehat, karena masa kehamilan dilalalui dengan perkembangan janin yang tidak maksimal.
Ide untuk membuat program kerja supaya bayi lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi anak pintar merupakan inisiatif untuk membantu seluruh ibu khususnya di Indonesia. Hasil akhir berupa kemampuan ibu untuk beraksi nyata mempertajam kesehatan dirinya dan anaknya. Halangan terbesar adalah sangat sulit untuk memenuhi asupan gizi yang mereka butuhkan. Meminta mereka untuk makan saja adalah hal yang paling berisiko tertolak. Padahal ada sangat banyak hal khusus yang memiliki perbedaan jumlah dan jenis mengenai zat gizi makro maupun mikro antara mereka dan orang kebiasaan.
Kebutuhan vitamin C ibu hamil adalah kebutuhan vitamin C dewasa ditambah dengan 10 mg. Piridoksin dibutuhkan oleh seorang ibu hamil sebanyak 2,2 mg, perbedaan yang cukup jauh bila ditelusuri piridoksin dibutuhkan oleh wanita dewasa hanya sebanyak 1,5 mg. Pertambahan jumlah kebutuhan ini juga terjadi pada vitamin A. Laki-laki dewasa membutuhkan 700 RE vitamin A, namun pada ibu hamil kebutuhan vitamin A lebih besar menjadi 800 RE. Keberagaman ini menular pada kebutuhan makromineral seperti kalsium, dengan angka kebutuhan per hari paling besar yaitu 1300 mg. Tetapi informasi yang dimiliki ibu hamil di Indonesia tidak banyak.
Mereka yang tidak mampu akan mengkonsumsi makanan apa pun yang dipunya atau bahkan tidak mengkonsumsi apapun jika tidak ada makanan. Akibatnya janin tidak dipersiapkan untuk menjadi bayi yang lahir dengan tubuh yang sehat. Perkembangan fisik terganggu, produktivitas menurun, rantai kemiskinan berlanjut. Mereka yang mampu akan memiliki banyak kesempatan untuk makan, dan memilih makanan apa pun yang mereka inginkan. Peluang bahaya terbesar justru dapat terjadi bila tubuh menjadi obesitas dan aterosklerosis pada pembuluh darah. Informasi minim diberikan posyandu yang tidak pernah diberlakukan buka setiap hari. Keberadaan kita menjadi solusi. Kita menyediakan informasi yang bisa mereka dapatkan di suatu tempat, atau kita yang mengantarkan informasi itu.
Pendekatan internal cukup memakan waktu bila dilakukan terhadap ibu hamil dan orang tua bayi padahal fase mereka berlangsung cepat. Sedikit paksaan yang menyenangkan perlu diterapkan untuk menyukseskan program pemeliharaan kesehatan bayi dan ibu hamil. Pembangunan kantin gizi di setiap kelurahan diperlukan dalam upaya menyediakan seluruh kebutuhan gizi ibu hamil dan bayi. Sepanjang hari selama 1000 hari, mereka akan diberikan pilihan menu yang telah dipertimbangkan secara matang oleh ahli gizi agar sesuai dengan kandungan gizi yang mereka butuhkan. Mereka tidak perlu mendatangi kantin gizi jika akses sulit atau bahkan karena mereka tidak mau. Para staf kantin akan mengantarkan menu yang mereka pesan dengan senang hati. Peran pemerintah selalu dibutuhkan untuk membuat harga dari menu-menu ini dapat dijangkau dengan mudah. Saya optimis dengan strategi ini. Pemerintah yang terlebih dahulu merencanakan sebuah program peningkatan kualitas gizi masyarakat dan saya memberi dukungan besar, dengan kesamaan tujuan ini pemerintah juga harus menyatakan dukungannya. Generasi emas impian negara ini akan segera lahir. Mereka pintar, dan saya salah satu dari mereka.
Saya teringat ibu pernah berkata bahwa ibu dapat menyusui saya hingga umur 6 bulan. Hal itu cukup memberi efek pada sintesis antibodi tubuh hingga saya seperti memiliki jadwal sakit setiap tahunnya. Saya teringat pula dengan keteguhan ibu untuk ‘menjejeli’ anak-anaknya dengan nasi saring wortel iris. Miris melihat ketidakhadiran daging di mangkuk makanan bayi itu setiap harinya. Namun rasa miris itu saya anut sudah sangat lama, dan berakhir di tahap akhir umur remaja saya ini. Rasa miris itu sudah dirumahkan sejak saya menjalani hari-hari di ruang kuliah gizi. Saya telah mengetahui bahwa wortel adalah jenis umbi yang bukan sembarang umbi dengan efek jangka panjangnya.

Efek jangka panjang pemenuhan gizi sejak kecil begitu terasa ketika saya dan seorang teman memperhatikan sebuah spanduk seminar yang terpasang di antara tiang listrik setinggi tiga meter. Saya membaca seluruh informasi di spanduk tersebut dengan seksama, dengan gaya biasa dan kejelian mata yang standar. Namun bukannya ikut membaca tulisan di spanduk, teman berpaling memperhatikan saya, ia berkata “Itu tulisannya apa aja Lan?”. Lalu dia mengomel “Tulisannya kecil, masang spanduknya tuh terlalu tinggi.”, diantara kebisuan saya. Saya telah memiliki modal tubuh yang sehat untuk menjadi salah satu warga negara Indonesia pintar yang berprestasi. Saya memang pintar. 

Selasa, 09 Juni 2015

Sepatu Sang Cinta

Memahami dari Sepatu Orang Lain


Sepatu Sang Cinta

Begitu sulit aku mengerti dirimu cinta
Sepatu jingga tampak geli di mata
Kau kenakan ia dengan penuh bangga

Aku bukan bermaksud mengubahmu
Menjadi biru seperti warna yang selalu ku rindu
Tapi inilah sepatu biru untukmu
Dari aku yang membiru

Tersirat jingga masih melekat kuat
Jalanan masih riuh bersemangat
Sepatu itu,
Mengambilmu dan seluruh langkah-langkah tersurat

Ia bersenandung bersamamu
Ia pun tersandung mengikutimu
Ia adalah dirimu

Aku bukan bermaksud mengubahmu
Adidas, Nike, Reebok, dan League mengajarkan
Jingga penuh bahagia bila kreasikan dunia
Beserta merah, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu

Jingga terlalu terang
Hingga silau menyakiti
Tidakkah kau mengetahui itu?
Aku mencintaimu…

Jingga kalahkan semua
Buat ego ciptakan benci
Tidakkah kau mengetahui itu?
Aku mencintaimu…

Ini sekedar sepatu biru untukmu
Agar aku bisa lebih mencintaimu

sekonyong-konyong di utara
bintang berekor menjingga di biru
aku meringis menangis
menatap cintaku bersyarat, ternyata…
menatap sepatu jingga bukan tercinta, jahatnya…

paksaan tentang sepatu jingga yang salah dariku
merana ia dibuatku
bukan keraguan tiada cinta padaku

aku hanya cintamu
yang berjalan bukan dengan sepatumu

aku tatap di sana
sepasang sepatu jingga di tanganmu untukku

untuk aku kenakan sendiri,
dan aku kenakan sendiri
hingga aku mampu memeluk
nyamannya duniamu,
dari sepatumu

***

Senin, 08 Juni 2015

Positive Thinking


Berpikir Positif

“Positive Thinking”

Seperti cahaya,
Dimana-mana cerah.
Menimbulkan terang

Berpikir positif menghidupkan dunia
Namun aku seorang suuzon-ers
Cahaya itu bisa benderang,
Karena listrik menyengat kawat-kawat
Karena api membakar lilin-lilin

Itu menyakitkan, bukan?

Hasil baik,
Bakal dari pedih yang bersabar
Pedih yang meredam
Pedih yang tertahan
Namun aku takut ia berakar

Semangat ini tidak hilang
Hanya saja ia tidak manis
Dengan mimpi-mimpi kebahagiaan masa depan
Semangat ini tidak hilang
Karena aku harus tahu bermimpi
Tapi aku lalui itu penuh merana

Seumpama layang-layang ringkih
Terbang mengangkasa
Tercekik tali
Tertampar udara
Namun gembira ia meliuk-liuk

Kiri
Kanan
Seimbang

Ketika aku tetap paham
Bahwa terbang mengangkasa itu
Tercekik tali
Tertampar udara
Hingga gembira meliuk-liuk

Mungkin saatnya pikiran ini bersisi indah
Bahwa tetaplah bermakna terbang mengangkasa
Ia tinggi disana
Aku tinggi disana

Seutas tali menjaga
Menaikkan jika turun
Menguatkan jika kendur

Suuzon-ers berkata, “Payah,
kau menggantung.

Padahal tidak
Lihat anak kecil di bawah sana

Padahal tidak
Aku hanya membanggakan asa