Minggu, 14 Juni 2015

Ulang Tahun Wanita Jutek

Ulang Tahun Wanita Jutek
Pernahkah Anda merasa bahwa telah cukup memiliki teman? Saya pernah. Mungkin sering. Tiga tahun terakhir, ini menjadi semakin jelas dengan tanda yaitu semakin mahirnya saya memasang wajah jutek untuk mengakhiri sebuah obrolan.


                “Kakak jurusan apa?” Tanya seseorang kala itu.

                “Gizi.”

          Ulangi : “G-i-z-i-TITIK.”, kata saya dengan wajah jutek.

Dan berakhirlah pembicaraan itu.

Jahat ya?

            Saya bukan tidak menyadari bahwa saya jutek. Totally, saya sadar. Sadar penuh sejujurnya. Cara “jutek” itu sekedar saya gunakan sesekali ketika bertemu dalam situasi “saya butuh konsentrasi dalam kesendirian.”. Namun entah kenapa situasi ini menjadi sangat sering saya temui dalam hidup tiga tahun saya terakhir ini.

            Seiring berjalannya waktu, muncullah istilah “jutek” itu seperti lem yang jenis Alteco atau seperti detak jantung lirik dalam lagu “Dekat di Hati” yang selalu dibawa kemanapun RAN pergi. Mengekor tanpa niatan untuk melakukannya. Tanpa niat bahwa saya akan menyukai sebutan jutek, karena memang kalau saya menyukai sebutan itu ada pada diri saya pasti saya akan berusaha untuk mendapatkan gelar tersebut.

            Bagaikan pengertian dari cool yang sering dipakai oleh remaja gaul Amerika, jutek menjadi sesuatu yang keren. Pendapat ini bukan tidak berdasar. Dari seluruh film bergenre western yang saya tonton, setiap kali ada seorang aktor wanita ataupun pria dalam film tersebut memerankan tokoh yang cool,  pasti akan bersikap jutek. Cowo jutek itu cool. Cewe jutek itu juga cool. Secara psikologi, mereka akan menimbulkan reaksi psikis yang disebut dengan “penasaran” sehingga merangsang motorik untuk bekerja. Membuat orang-orang di sekitarnya secara positif akan bertambah dekat, atau secara negatif akan menjauh. Itu pilihan.

            Paragraf di atas hanya sebuah cerita selingan yang mungkin bisa dijadikan referensi skripsi Anda. Mungkin tidak juga tidak masalah. Sekali lagi, Anda harus mengenali baik-baik bagaimana sifat jutek itu bisa jadi sesuatu yang selalu ada pada diri seseorang. Tidak masalah karena jutek adalah pendamping sejati dari karakter cuek. Jarang sekali orang jutek akan menjadi orang yang pertama menyapa dalam sebuah per-sapa-an. Ialah yang selalu akan disapa. Persepsi negatif sombong ujung-ujungnya akan diterima. Itu pilihan.


            Apa yang terjadi ketika wanita jutek yang menulis artikel ini sedang berulang tahun?


            Saya begitu terpukau dengan kalimat romantis Daniel Bruhl dalam film Rush, ketika akan melangsungkan janji setia.

            “Aku harus memperingatkanmu. Aku tidak pandai dalam hal ini. Membawa bunga dan berpegangan tangan. Mungkin aku akan lupa hari ulang tahunmu. Tapi jika aku harus menikah dengan seseorang, orang itu adalah dirimu.”

Dijawab oleh Alexandra Maria Lara,

            “Astaga, kau berpuisi!” dengan senyum yang menurut saya merupakan hasil dari sejumlah persepsi positif dari “menerima apa adanya” dan “itulah spesialnya dirimu” serta “aku mencintaimu, sungguh.”.
            Romantis, bukan? Bolehlah sekali lagi Anda baca dan perhatikan, disana terlalu banyak poin dari sifat jutek yang diperankan Daniel Bruhl. Saya baru menonton film ini sekitar lima bulan yang lalu, tetapi saya telah melakukan hal yang persis sama dengan ucapan Daniel tersebut sejak dua setengah tahun sebelumnya. Tanggal lahir yang benar-benar saya ingat sepanjang hari, sepanjang waktu tanpa kesalahan berarti jika diminta untuk menyebutkannya hanyalah hari lahir ayah, ibu, kakak, dan dua adik lelaki saya. Maafkan.

            Tapi,

            Oh come on… Saya memang tidak merayakan ulang tahun.

            Seperti hari ini, sebetulnya saya sangat berhati-hati dalam bersikap ketika hukum aksi-reaksi benar-benar adil untuk terjadi dalam kehidupan ini. Ketika kita melakukan sesuatu kepada orang lain, maka di saat yang sama kita harus bersiap untuk mendapat perlakuan yang sama. Seperti hari ini, tanpa mengurangi rasa syukur dan hormat saya, sejujur-jujurnya saya tidak berharap akan banyak orang yang mengingat peristiwa tanggal 14 Juni pada dua puluh satu tahun yang lalu. Akui saja, Anda yang tahu karena reminder dari Facebook bukan?

            “Hehe,” kata si hati dengan senyum licik.

            Namun inilah yang terjadi. Do’a itu mengalir, dengan penerimaan malu-malu si hati. Bahwa mengingat dari reminder tidak seburuk itu. Bahwa ketulusan bisa diperoleh kapan saja tanpa mengurangi keberkahannya.

            “Aamiin…”
           
            Bahwa akan ada definisi kebaikan yang baru dari kalian, yaitu kebaikan adalah sikap mengucapkan do’a kepada orang lain yang bahkan tidak mengingat ulang tahun orang yang mengucapkan do’a tersebut.

            Seperti hari ini, ketika rencana rahasia seorang teman terbongkar dengan lucu. Ketika saya bahkan 12 jam beraktivitas di luar rumah hari ini. Ketika bahkan saya sangat lupa untuk menyediakan waktu bagi mereka yang berdefinisi kebaikan seperti tadi. Saya hanya teringat untuk tidak mengharapkan apapun, maaf. Tetapi tetap saja akan ada orang berdefinisi kebaikan yang bermunculan. Mereka adalah parameter intropeksi. Sedang jutek adalah parameter kebaikan : apakah Anda termasuk orang berdefinisi kebaikan atau tidak.

            Terkhusus Anda-Anda, para korban ketidakpernahan menerima ucapan selamat ulang tahun.

Dua lembar permintaan maaf,
                                                                        Kisah edisi Juni tertanggal 14


Mari jutek,
Mari menundukkan pandangan

: )


0 komentar:

Posting Komentar