![]() |
| Prioritas Kesehatan Sedari Dini |
Saya Pintar
Saya
cukup mengetahui bahwa saya pintar. Ketika saya menyadari itu saya cukup dapat
memastikan bahwa Anda akan bergumam “Sombong sekali kau”. Kemudian seketika ini
pula Anda akan kembali bergumam “Negatif aja ni orang”. Saya pintar dengan otak
saya yang berkembang sempurna, pengenalan lingkungan yang diberikan orang tua
dengan baik, dan pendidikan yang seimbang dengan kebutuhan harian saya. Anda
tidak perlu menyatakan diri sebagai orang negatif dengan berpikiran yang tidak
baik tentang pernyataan saya ini. Disini saya berniat menyombongkan impian
besar saya untuk menjadi pintar. Saya tidak menggagalkan pernyataan bahwa saya
pintar dan untuk saat ini pintar masih menjadi mimpi saya, karena saya tahu
saya memang pintar. Namun saya pun tahu bahwa pintar tidak memiliki ujung jalan
yang membuat kita berhenti untuk belajar, saya bermimpi untuk menjadi pintar.
Pintar
dapat disejajarkan maknanya dengan kata cerdas. Keduanya memiliki arti keadaan
seseorang yang mampu berpikir dengan tepat dan menemukan jalan keluar suatu
masalah. Berpikir dengan tepat termasuk dalam kategori cara seseorang dalam
memandang suatu masalah. Saya menyatakan dengan tegas bahwa pintar adalah suatu
keadaan. Seorang ahli mengetik yang sudah mahir mengetik, mengambil cuti 3
bulan dan selama itu pula ia tidak melakukan kegiatan mengetik, maka ia dapat
berbalik menjadi seseorang yang tidak pintar mengetik. Keadaan ini faktual
dalam kehidupan sehari-hari. Beragam faktor penyebab dapat mengakibatkan si pintar
mengalami pensiun dini. Saya teringat dengan perbedaan kesan yang ditimbulkan
istilah “pintar” dan “cerdas”. Pintar seperti berhubungan erat dengan nilai
akademis, sedangkan cerdas berhubungan dengan hal non-akademis. Walau terkesan
memiliki makna yang berbeda, pintar dan cerdas selalu berdampingan dalam
bekerja. Setiap kali menjalankan peran, pintar yang terbiasa akan membuat
keadaan pintar menjadi cerdas.
Pelatihan
pintar bukan sekedar wacana. Ketika usia telah beranjak jauh dari usia bayi,
pintar masih dapat diwujudkan demi mendukung keadaan sehari-hari anak yang
lebih baik di masa depan. Pelatihan ini dapat diberikan oleh siapa saja dan
dimana saja. Cara-cara tertentu juga tidak tertulis dalam buku Pedoman Umum Pelatihan Pintar. Saya ralat,
buku dengan judul seperti itu bahkan kemungkinan besar tidak ada. Pedoman itu
seperti layaknya hukum adat istiadat yang tidak tertulis, namun dalam mengikat
setiap orang yang menjadi bagiannya.
Kelebihan
pintar yang paling mencolok adalah cara menanggapi yang cermat dan cepat pada
saat menghadap suatu kejadian. Saya begitu menyukai cara bola basket memantul
di permukaan lapangan basket. Bola basket akan memantul kapan saja bola basket
mengenai permukaan lapangan basket. Tidak peduli bola basket dipantulkan dengan
kekuatan lemah, sedang, atau keras. Tidak bergantung pula pada pagi buta, siang
hari, setelah fajar, atau saat merahnya mega menyingsing sore yang dingin, bola
basket akan memantul. Harus dicatat berulang kali bahwa bola basket akan selalu
memantul di permukaan lapangan basket. Setelah dicatat, perhatikan kembali
bahwa ‘faktor keberhasilan memantul’ dipegang oleh bola basket. Dengan
standarisasi yang sama akan menghasilkan rumusan bahwa jika bola basket
bermasalah, besar kemungkinan bola basket gagal memantul.
Sebanyak
usaha memantulkan bola basket di permukaan lapangan basket, sebanyak itu pula
harus dicermati terlebih dahulu akan hal-hal tentang dorongan utama yang
membuat bola basket dapat memantul. Potensi bola basket adalah dorongan itu.
Potensi tersebut bukan dibuat ketika bola basket sudah laku dijual kepada
pembeli. Toko olahraga tidak menjual karet mentah untuk diproses sendiri oleh
pembeli menjadi bola basket. Saya sering mendapatkan bola rusak namun dengan
bentuk fisik yang baik. Saya mencoba membuat bola tersebut memantul dengan
terlebih dahulu berkonsultasi bersama ‘ahli strategi memantul’ ekstrakulikuler
basket ketika duduk di bangku SMA yang ternyata sia-sia. Bola tersebut
benar-benar rusak. Struktur bola basket tidak lagi layak guna. Bola basket
tidak memiliki potensi memantul yang memadai.
Perencanaan
panjang dipersiapkan oleh perancang bola basket, untuk membuat bola basket
potensial siap pakai yang dapat menyumbang prestasi. Bahan baku karet diteliti
kualitasnya secara ilmiah dan ribuan uji coba pantul dilakukan untuk membuat
bola basket memantul dengan baik. Pelaksanaannya tidak tiba-tiba dan seadanya. Tidak
pula dengan tergesa-gesa sehingga banyak detail penting yang terlupakan.
Kecermatan dalam memperhatikan waktu, anggaran, dan penenatalaksanaan dilengkapi
dalam satu berkas proposal perencanaan masa depan bola basket. Perencanaan oleh
orang-orang hebat bernama orang tua.
Saya begitu
senang menggambarkan perencanaan ini melalui pembentukan ‘keluarga basket’
seperti halnya keluarga manusia. Bola basket adalah sang anak. Hingga umur yang
sangat dewasa, sang anak adalah sebuah bola basket. Potensi bola basket
mewakili kualitas fisik dan psikis anak. Ketika muncul pertanyaan tentang
pemilihan bola basket dan bukan bola sepak saja, saya cukup menjelaskan dengan
teori bahwa bola sepak rusak pun dapat ditendang dan menghasilkan gol. Hal ini
tidak sama dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. Keadaan tidak sehat
membuat manusia tidak dapat memberikan produktivitas maksimalnya, sehingga
tidak maksimal pula prestasi yang dihasilkan. Jauh sebelum hari kelahiran,
pertumbuhan dan perkembangan anak telah ada. Perencanaan menuju prestasi
Indonesia yang mencakup kehidupan tiga miliyar penduduk Indonesia dimulai
dengan menyehatkan satu orang ini.
Instansi pemerintah
memberi sebutan untuk proyek pembuatan prestasi skala besar ini dengan nama
‘Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan’. Pengaruh yang ditargetkan dalam gerakan
ini bukan lagi untuk orang-orang dengan satu masalah dalam satu rumah. Namun
total dari seluruh masalah-masalah itu dikalikan dengan jumlah rumah warga di
Indonesia. Bayi dan ibu hamil beserta janinnya bukan titik masalah, namun peristiwa
penting banyak terjadi pada kehidupan mereka sehingga mereka menggenggam peran
besar untuk menimbulkan masalah di Indonesia. Ibu hamil yang tidak sehat akan
mengurangi porsi peluang lahirnya bayi yang sehat, karena masa kehamilan
dilalalui dengan perkembangan janin yang tidak maksimal.
Ide untuk
membuat program kerja supaya bayi lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi anak
pintar merupakan inisiatif untuk membantu seluruh ibu khususnya di Indonesia.
Hasil akhir berupa kemampuan ibu untuk beraksi nyata mempertajam kesehatan
dirinya dan anaknya. Halangan terbesar adalah sangat sulit untuk memenuhi
asupan gizi yang mereka butuhkan. Meminta mereka untuk makan saja adalah hal
yang paling berisiko tertolak. Padahal ada sangat banyak hal khusus yang
memiliki perbedaan jumlah dan jenis mengenai zat gizi makro maupun mikro antara
mereka dan orang kebiasaan.
Kebutuhan
vitamin C ibu hamil adalah kebutuhan vitamin C dewasa ditambah dengan 10 mg.
Piridoksin dibutuhkan oleh seorang ibu hamil sebanyak 2,2 mg, perbedaan yang
cukup jauh bila ditelusuri piridoksin dibutuhkan oleh wanita dewasa hanya
sebanyak 1,5 mg. Pertambahan jumlah kebutuhan ini juga terjadi pada vitamin A.
Laki-laki dewasa membutuhkan 700 RE vitamin A, namun pada ibu hamil kebutuhan
vitamin A lebih besar menjadi 800 RE. Keberagaman ini menular pada kebutuhan
makromineral seperti kalsium, dengan angka kebutuhan per hari paling besar
yaitu 1300 mg. Tetapi informasi yang dimiliki ibu hamil di Indonesia tidak
banyak.
Mereka yang
tidak mampu akan mengkonsumsi makanan apa pun yang dipunya atau bahkan tidak
mengkonsumsi apapun jika tidak ada makanan. Akibatnya janin tidak dipersiapkan
untuk menjadi bayi yang lahir dengan tubuh yang sehat. Perkembangan fisik
terganggu, produktivitas menurun, rantai kemiskinan berlanjut. Mereka yang
mampu akan memiliki banyak kesempatan untuk makan, dan memilih makanan apa pun
yang mereka inginkan. Peluang bahaya terbesar justru dapat terjadi bila tubuh
menjadi obesitas dan aterosklerosis pada pembuluh darah. Informasi minim
diberikan posyandu yang tidak pernah diberlakukan buka setiap hari. Keberadaan
kita menjadi solusi. Kita menyediakan informasi yang bisa mereka dapatkan di
suatu tempat, atau kita yang mengantarkan informasi itu.
Pendekatan internal
cukup memakan waktu bila dilakukan terhadap ibu hamil dan orang tua bayi
padahal fase mereka berlangsung cepat. Sedikit paksaan yang menyenangkan perlu
diterapkan untuk menyukseskan program pemeliharaan kesehatan bayi dan ibu
hamil. Pembangunan kantin gizi di setiap kelurahan diperlukan dalam upaya
menyediakan seluruh kebutuhan gizi ibu hamil dan bayi. Sepanjang hari selama
1000 hari, mereka akan diberikan pilihan menu yang telah dipertimbangkan secara
matang oleh ahli gizi agar sesuai dengan kandungan gizi yang mereka butuhkan.
Mereka tidak perlu mendatangi kantin gizi jika akses sulit atau bahkan karena
mereka tidak mau. Para staf kantin akan mengantarkan menu yang mereka pesan
dengan senang hati. Peran pemerintah selalu dibutuhkan untuk membuat harga dari
menu-menu ini dapat dijangkau dengan mudah. Saya optimis dengan strategi ini.
Pemerintah yang terlebih dahulu merencanakan sebuah program peningkatan
kualitas gizi masyarakat dan saya memberi dukungan besar, dengan kesamaan
tujuan ini pemerintah juga harus menyatakan dukungannya. Generasi emas impian
negara ini akan segera lahir. Mereka pintar, dan saya salah satu dari mereka.
Saya teringat
ibu pernah berkata bahwa ibu dapat menyusui saya hingga umur 6 bulan. Hal itu
cukup memberi efek pada sintesis antibodi tubuh hingga saya seperti memiliki
jadwal sakit setiap tahunnya. Saya teringat pula dengan keteguhan ibu untuk
‘menjejeli’ anak-anaknya dengan nasi saring wortel iris. Miris melihat
ketidakhadiran daging di mangkuk makanan bayi itu setiap harinya. Namun rasa
miris itu saya anut sudah sangat lama, dan berakhir di tahap akhir umur remaja
saya ini. Rasa miris itu sudah dirumahkan sejak saya menjalani hari-hari di
ruang kuliah gizi. Saya telah mengetahui bahwa wortel adalah jenis umbi yang
bukan sembarang umbi dengan efek jangka panjangnya.
Efek jangka panjang
pemenuhan gizi sejak kecil begitu terasa ketika saya dan seorang teman
memperhatikan sebuah spanduk seminar yang terpasang di antara tiang listrik
setinggi tiga meter. Saya membaca seluruh informasi di spanduk tersebut dengan
seksama, dengan gaya biasa dan kejelian mata yang standar. Namun bukannya ikut
membaca tulisan di spanduk, teman berpaling memperhatikan saya, ia berkata “Itu
tulisannya apa aja Lan?”. Lalu dia mengomel “Tulisannya kecil, masang
spanduknya tuh terlalu tinggi.”, diantara kebisuan saya. Saya telah memiliki
modal tubuh yang sehat untuk menjadi salah satu warga negara Indonesia pintar
yang berprestasi. Saya memang pintar.

0 komentar:
Posting Komentar