Rabu, 10 Juni 2015

Saya Pintar

Prioritas Kesehatan Sedari Dini

Saya Pintar

            Saya cukup mengetahui bahwa saya pintar. Ketika saya menyadari itu saya cukup dapat memastikan bahwa Anda akan bergumam “Sombong sekali kau”. Kemudian seketika ini pula Anda akan kembali bergumam “Negatif aja ni orang”. Saya pintar dengan otak saya yang berkembang sempurna, pengenalan lingkungan yang diberikan orang tua dengan baik, dan pendidikan yang seimbang dengan kebutuhan harian saya. Anda tidak perlu menyatakan diri sebagai orang negatif dengan berpikiran yang tidak baik tentang pernyataan saya ini. Disini saya berniat menyombongkan impian besar saya untuk menjadi pintar. Saya tidak menggagalkan pernyataan bahwa saya pintar dan untuk saat ini pintar masih menjadi mimpi saya, karena saya tahu saya memang pintar. Namun saya pun tahu bahwa pintar tidak memiliki ujung jalan yang membuat kita berhenti untuk belajar, saya bermimpi untuk menjadi pintar.
            Pintar dapat disejajarkan maknanya dengan kata cerdas. Keduanya memiliki arti keadaan seseorang yang mampu berpikir dengan tepat dan menemukan jalan keluar suatu masalah. Berpikir dengan tepat termasuk dalam kategori cara seseorang dalam memandang suatu masalah. Saya menyatakan dengan tegas bahwa pintar adalah suatu keadaan. Seorang ahli mengetik yang sudah mahir mengetik, mengambil cuti 3 bulan dan selama itu pula ia tidak melakukan kegiatan mengetik, maka ia dapat berbalik menjadi seseorang yang tidak pintar mengetik. Keadaan ini faktual dalam kehidupan sehari-hari. Beragam faktor penyebab dapat mengakibatkan si pintar mengalami pensiun dini. Saya teringat dengan perbedaan kesan yang ditimbulkan istilah “pintar” dan “cerdas”. Pintar seperti berhubungan erat dengan nilai akademis, sedangkan cerdas berhubungan dengan hal non-akademis. Walau terkesan memiliki makna yang berbeda, pintar dan cerdas selalu berdampingan dalam bekerja. Setiap kali menjalankan peran, pintar yang terbiasa akan membuat keadaan pintar menjadi cerdas.
            Pelatihan pintar bukan sekedar wacana. Ketika usia telah beranjak jauh dari usia bayi, pintar masih dapat diwujudkan demi mendukung keadaan sehari-hari anak yang lebih baik di masa depan. Pelatihan ini dapat diberikan oleh siapa saja dan dimana saja. Cara-cara tertentu juga tidak tertulis dalam buku Pedoman Umum Pelatihan Pintar. Saya ralat, buku dengan judul seperti itu bahkan kemungkinan besar tidak ada. Pedoman itu seperti layaknya hukum adat istiadat yang tidak tertulis, namun dalam mengikat setiap orang yang menjadi bagiannya.
            Kelebihan pintar yang paling mencolok adalah cara menanggapi yang cermat dan cepat pada saat menghadap suatu kejadian. Saya begitu menyukai cara bola basket memantul di permukaan lapangan basket. Bola basket akan memantul kapan saja bola basket mengenai permukaan lapangan basket. Tidak peduli bola basket dipantulkan dengan kekuatan lemah, sedang, atau keras. Tidak bergantung pula pada pagi buta, siang hari, setelah fajar, atau saat merahnya mega menyingsing sore yang dingin, bola basket akan memantul. Harus dicatat berulang kali bahwa bola basket akan selalu memantul di permukaan lapangan basket. Setelah dicatat, perhatikan kembali bahwa ‘faktor keberhasilan memantul’ dipegang oleh bola basket. Dengan standarisasi yang sama akan menghasilkan rumusan bahwa jika bola basket bermasalah, besar kemungkinan bola basket gagal memantul.
            Sebanyak usaha memantulkan bola basket di permukaan lapangan basket, sebanyak itu pula harus dicermati terlebih dahulu akan hal-hal tentang dorongan utama yang membuat bola basket dapat memantul. Potensi bola basket adalah dorongan itu. Potensi tersebut bukan dibuat ketika bola basket sudah laku dijual kepada pembeli. Toko olahraga tidak menjual karet mentah untuk diproses sendiri oleh pembeli menjadi bola basket. Saya sering mendapatkan bola rusak namun dengan bentuk fisik yang baik. Saya mencoba membuat bola tersebut memantul dengan terlebih dahulu berkonsultasi bersama ‘ahli strategi memantul’ ekstrakulikuler basket ketika duduk di bangku SMA yang ternyata sia-sia. Bola tersebut benar-benar rusak. Struktur bola basket tidak lagi layak guna. Bola basket tidak memiliki potensi memantul yang memadai.
Perencanaan panjang dipersiapkan oleh perancang bola basket, untuk membuat bola basket potensial siap pakai yang dapat menyumbang prestasi. Bahan baku karet diteliti kualitasnya secara ilmiah dan ribuan uji coba pantul dilakukan untuk membuat bola basket memantul dengan baik. Pelaksanaannya tidak tiba-tiba dan seadanya. Tidak pula dengan tergesa-gesa sehingga banyak detail penting yang terlupakan. Kecermatan dalam memperhatikan waktu, anggaran, dan penenatalaksanaan dilengkapi dalam satu berkas proposal perencanaan masa depan bola basket. Perencanaan oleh orang-orang hebat bernama orang tua.
Saya begitu senang menggambarkan perencanaan ini melalui pembentukan ‘keluarga basket’ seperti halnya keluarga manusia. Bola basket adalah sang anak. Hingga umur yang sangat dewasa, sang anak adalah sebuah bola basket. Potensi bola basket mewakili kualitas fisik dan psikis anak. Ketika muncul pertanyaan tentang pemilihan bola basket dan bukan bola sepak saja, saya cukup menjelaskan dengan teori bahwa bola sepak rusak pun dapat ditendang dan menghasilkan gol. Hal ini tidak sama dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia. Keadaan tidak sehat membuat manusia tidak dapat memberikan produktivitas maksimalnya, sehingga tidak maksimal pula prestasi yang dihasilkan. Jauh sebelum hari kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan anak telah ada. Perencanaan menuju prestasi Indonesia yang mencakup kehidupan tiga miliyar penduduk Indonesia dimulai dengan menyehatkan satu orang ini.
Instansi pemerintah memberi sebutan untuk proyek pembuatan prestasi skala besar ini dengan nama ‘Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan’. Pengaruh yang ditargetkan dalam gerakan ini bukan lagi untuk orang-orang dengan satu masalah dalam satu rumah. Namun total dari seluruh masalah-masalah itu dikalikan dengan jumlah rumah warga di Indonesia. Bayi dan ibu hamil beserta janinnya bukan titik masalah, namun peristiwa penting banyak terjadi pada kehidupan mereka sehingga mereka menggenggam peran besar untuk menimbulkan masalah di Indonesia. Ibu hamil yang tidak sehat akan mengurangi porsi peluang lahirnya bayi yang sehat, karena masa kehamilan dilalalui dengan perkembangan janin yang tidak maksimal.
Ide untuk membuat program kerja supaya bayi lahir dengan sehat dan tumbuh menjadi anak pintar merupakan inisiatif untuk membantu seluruh ibu khususnya di Indonesia. Hasil akhir berupa kemampuan ibu untuk beraksi nyata mempertajam kesehatan dirinya dan anaknya. Halangan terbesar adalah sangat sulit untuk memenuhi asupan gizi yang mereka butuhkan. Meminta mereka untuk makan saja adalah hal yang paling berisiko tertolak. Padahal ada sangat banyak hal khusus yang memiliki perbedaan jumlah dan jenis mengenai zat gizi makro maupun mikro antara mereka dan orang kebiasaan.
Kebutuhan vitamin C ibu hamil adalah kebutuhan vitamin C dewasa ditambah dengan 10 mg. Piridoksin dibutuhkan oleh seorang ibu hamil sebanyak 2,2 mg, perbedaan yang cukup jauh bila ditelusuri piridoksin dibutuhkan oleh wanita dewasa hanya sebanyak 1,5 mg. Pertambahan jumlah kebutuhan ini juga terjadi pada vitamin A. Laki-laki dewasa membutuhkan 700 RE vitamin A, namun pada ibu hamil kebutuhan vitamin A lebih besar menjadi 800 RE. Keberagaman ini menular pada kebutuhan makromineral seperti kalsium, dengan angka kebutuhan per hari paling besar yaitu 1300 mg. Tetapi informasi yang dimiliki ibu hamil di Indonesia tidak banyak.
Mereka yang tidak mampu akan mengkonsumsi makanan apa pun yang dipunya atau bahkan tidak mengkonsumsi apapun jika tidak ada makanan. Akibatnya janin tidak dipersiapkan untuk menjadi bayi yang lahir dengan tubuh yang sehat. Perkembangan fisik terganggu, produktivitas menurun, rantai kemiskinan berlanjut. Mereka yang mampu akan memiliki banyak kesempatan untuk makan, dan memilih makanan apa pun yang mereka inginkan. Peluang bahaya terbesar justru dapat terjadi bila tubuh menjadi obesitas dan aterosklerosis pada pembuluh darah. Informasi minim diberikan posyandu yang tidak pernah diberlakukan buka setiap hari. Keberadaan kita menjadi solusi. Kita menyediakan informasi yang bisa mereka dapatkan di suatu tempat, atau kita yang mengantarkan informasi itu.
Pendekatan internal cukup memakan waktu bila dilakukan terhadap ibu hamil dan orang tua bayi padahal fase mereka berlangsung cepat. Sedikit paksaan yang menyenangkan perlu diterapkan untuk menyukseskan program pemeliharaan kesehatan bayi dan ibu hamil. Pembangunan kantin gizi di setiap kelurahan diperlukan dalam upaya menyediakan seluruh kebutuhan gizi ibu hamil dan bayi. Sepanjang hari selama 1000 hari, mereka akan diberikan pilihan menu yang telah dipertimbangkan secara matang oleh ahli gizi agar sesuai dengan kandungan gizi yang mereka butuhkan. Mereka tidak perlu mendatangi kantin gizi jika akses sulit atau bahkan karena mereka tidak mau. Para staf kantin akan mengantarkan menu yang mereka pesan dengan senang hati. Peran pemerintah selalu dibutuhkan untuk membuat harga dari menu-menu ini dapat dijangkau dengan mudah. Saya optimis dengan strategi ini. Pemerintah yang terlebih dahulu merencanakan sebuah program peningkatan kualitas gizi masyarakat dan saya memberi dukungan besar, dengan kesamaan tujuan ini pemerintah juga harus menyatakan dukungannya. Generasi emas impian negara ini akan segera lahir. Mereka pintar, dan saya salah satu dari mereka.
Saya teringat ibu pernah berkata bahwa ibu dapat menyusui saya hingga umur 6 bulan. Hal itu cukup memberi efek pada sintesis antibodi tubuh hingga saya seperti memiliki jadwal sakit setiap tahunnya. Saya teringat pula dengan keteguhan ibu untuk ‘menjejeli’ anak-anaknya dengan nasi saring wortel iris. Miris melihat ketidakhadiran daging di mangkuk makanan bayi itu setiap harinya. Namun rasa miris itu saya anut sudah sangat lama, dan berakhir di tahap akhir umur remaja saya ini. Rasa miris itu sudah dirumahkan sejak saya menjalani hari-hari di ruang kuliah gizi. Saya telah mengetahui bahwa wortel adalah jenis umbi yang bukan sembarang umbi dengan efek jangka panjangnya.

Efek jangka panjang pemenuhan gizi sejak kecil begitu terasa ketika saya dan seorang teman memperhatikan sebuah spanduk seminar yang terpasang di antara tiang listrik setinggi tiga meter. Saya membaca seluruh informasi di spanduk tersebut dengan seksama, dengan gaya biasa dan kejelian mata yang standar. Namun bukannya ikut membaca tulisan di spanduk, teman berpaling memperhatikan saya, ia berkata “Itu tulisannya apa aja Lan?”. Lalu dia mengomel “Tulisannya kecil, masang spanduknya tuh terlalu tinggi.”, diantara kebisuan saya. Saya telah memiliki modal tubuh yang sehat untuk menjadi salah satu warga negara Indonesia pintar yang berprestasi. Saya memang pintar. 

0 komentar:

Posting Komentar